Senin, Februari 23, 2009

Koran...Koran!!!

Tadi pagi akhirnya kami melakukan "misi mulia" ini: JUALAN KORAN...!!!

Ceritanya buat acara MaC-Maple 2009 ini panitia dapet sponsor dari Kompas...tapi syaratnya harus jualin korannya sebanyak 1500 eksemplar selama 30 hari! Wow...

Setelah dihitung2 tiap panitia harus jualin 2 eksemplar per hari... Dan setelah dibagi berkelompok dan ditentukan "sasaran operasi"nya...aku, barengan Agung, Steven, Mas Anas, dan Ce Arlinda kebagian "mangkal" di perempatan Dieng...jdhieennngg

Ini dia nih contoh kegilaan...

"Koran Bang...beli satu bonus yang jual!"

"Wah, ada makhluk langka jualan koran! =p"

rasanya?
Hmm...unsayable... Padahal aku udah ngasih senyum termanisku ma bapak2 bermobil yang lagi lewat (maaf pak saya wanita baik2! =p) Tapi akhirnya cuma kejual 1 biji...-_-
Malah ditanyain, "Jawa Pos-nya gak ada Mbak?"
Ah, Pak Jakob Oetama...rasanya di Jawa Timur Anda kalah telak dari Dahlan Iskan!
'Mangkal' dari jam 6 pagi mpe stenga 8 rasanya kayak udah lumutan...Apalagi makin lama makin panas...dan tau2 ada Mas2 baru dateng yang jualan koran juga! tampangnya preman banget lagi...ya sudahlah akirna kita cabut ke kampus...mana perut uda keroncongan blum sarapan...T.T
Ini baru hari pertama loh! Masih ada 29 hari berikutnya!
harus mulai nyusun strategi nih...

Minggu, Februari 22, 2009

PKM Diary (4) : Jadi Guru Lagi...

Hari ini Mbak Ayik (pembina sanggar) gak dateng karena sakit flu...jadi kita bertiga full meng-handle anak2 itu...

Pertama2 aq dateng ternyata masih SEPI...Ami en Ko Cung pada gak kelihatan batang mukanya...HUAH DASAR TUKANG NGARET...! Dan pelataran SD masih kotor banget, becek kena hujan. Untungnya dibantu Puput kami membersihkan lantai...


"Full enthusiasm..."
Abis itu barulah Ami en Ko Cung dateng...Hari ini rencana kita mau ngajakin anak2 KLIPING...Udah bawa kertas HVS, koran, majalah, gunting, dan lem... Ternyata masih banyak anak2 gak tau apa itu KLIPING...-_-" Waktu ngejelasin ke mereka rasanya jadi inget lagi saat2 jadi guru (a.k.a. Ustadzah) di TPQ dulu...aiiihhh
"Krek...krek...menggunting itu asyik lho"

Tau gak???Kita ngerasa anak2 pada bikin kemajuan hari ini. Semuanya ANTUSIAS. Aku suka lihat wajah mereka yang bener2 ngelakuin apa yang kita minta. Kliping mungkin hal baru bagi mereka tapi mereka NIAT melakukannya. Inilah yang aku suka dari anak2 di sanggar ini...semuanya PROAKTIF!

"Cheers...we're all new family^^"

Truss anak2 kayak Moris gitu, yang biasanya MBUETHIK gak karuan...hari ini tiba2 jadi MANIS...aduh tambah seneng aja liatnya^^. Tau2 dia bantuin aku beresin koran...trus bantu temennya yang blum selesai...pokoknya jadi kelihatan tambah manis aja tuh anak...=D
Dedi, kakaknya juga gitu. Jadi mau disuruh bantuin adeknya...biasanya kan keluyuran gak jelas gitu...

"Ini hasil karyaku!!!"

Dari sini aku ambil satu kesimpulan : anak-anak itu memang BUTUH PERHATIAN. Mereka hidup di daerah bantaran kali yang kumuh dan minim akses pendidikan, jadi mereka senang ketika ada orang2 seperti kami yang MAU MEMPERHATIKAN mereka...makanya mereka jadi SEMANGAT dan ANTUSIAS ketika kami mengajarkan hal2 baru.

Tau gak???
Rasanya kayak di Laskar Pelangi...

"Moris...kawaii da ne!"

Tadi aku bawa permen. Sebenernya pengin bawa kue yang banyak gitu tapi hari ini ibuku gak bikin apa2... Katanya kalo mau ke sana lagi aku disuruh bilang supaya ibuku bisa bikin sesuatu buat mereka...

Bayangin deh. Waktu aku kasih sikat gigi Formula (bonus beli baterai Alkaline) mereka rebutan...! Mungkin banyak di antara mereka yang gak punya sikat gigi pribadi...

"Cita-cita tinggi...^x^"

Sayang anak kesayanganku, Wahyu, gak dateng tadi... Tapi makin hari aku makin sayang sama mereka semua... Semoga kebersamaan kami terus berlanjut...=)

Wait for our next adventure! ^0^

Jumat, Februari 20, 2009

Menyenangkan Semua Orang

Kenapa aku nulis ini?
Karena kayaknya aku harus mengatur ulang prinsip hidupku.
Jadi begini.

Kebetulan saya orang yang...well, katakanlah--gak suka cari musuh. Selama saya masih merasa nyaman denganmu, selama kamu tidak sangat menyakiti saya, saya selalu bisa berteman denganmu. Gak peduli semua asal-usul dan atribut yang kamu pakai, saya akan menilaimu sebagai seorang manusia seutuhnya, tanpa embel-embel apa2. Saya akan menelanjangi semua persepsi, stigma, dan sejenisnya pada orang2 semacam kamu dan saya akan mencoba menilai dirimu karena KAMU, bukan latar belakangmu.

Kadang2 saya seperti Ayah saya, berusaha menyenangkan semua orang.

Dan sebetulnya...itu bukan hal yang sepenuhnya bagus. Ketika saya ingin menyenangkan seseorang, maka saya cenderung 'menuruti' apa yang dia senangi dan menekan argumen saya sendiri...sehingga lama kelamaan saya jadi kayak orang gak berpendirian.

Demikian pula ketika saya ingin menyenangkan orang lain, maka saya akan 'manggut2' saja di depannya dan bertindak sesuai dengan yang diinginkan...meskipun itu sebenarnya bertentangan dengan orang pertama tadi.

Di situlah masalah saya sekarang.

Saya terlalu ingin berteman dengan semuanya. Padahal gak semua orang itu sama. Mau gak mau saya harus menyesuaikan diri dengan pemikiran masing2 kan? Bahkan meski pemikiran satu dengan yang lain itu berseberangan...

Jadinya kayak orang munafik kan?
Bisa nempel sana, bisa nempel sini juga.

Padahal bukan itu yang saya inginkan.
Tentu saja saya punya argumen sendiri tapi kadang2 itu jadi luluh ketika saya berusaha "menyenangkan orang lain". Saya akan menyimpan pendapat itu dan berpikir..."ah, nanti saja saya utarakan." Saya cuma manggut2 saja dengan pendapat orang itu dan gak bisa langsung membantah karena ingin memberi citra baik.

Citra. Imej. Oh, BULLSHIT.

Bener emang. "Kita nggak bisa menyenangkan semua orang karena di saat kita mencoba membuatnya senang bisa jadi mereka malah nggak senang." Karena kepuasan seseorang itu gak ada batasnya. Pro kontra akan selalu ada. Kalau selalu mendengarkan kata orang gak akan ada habisnya.

Tapi kenapa aku jadi bersikap gini itu juga ada alasannya. Aku udah ngalamin yang namanya dibenci "penguasa sekolah" waktu SMP karena berusaha mempertahankan pendapatku. Aku nggak mau itu terulang dan aku pengin berteman sama semua orang. Aku nggak mau dianggap jelek. Aku nggak mau dihina terus. Padahal siapa yang tau kalo ada orang yang ngomongin kita di belakang???

Kalo dipikir2 lagi, dibenci itu nggak selamanya jelek kok. Kalo kita dibenci sama orang yang salah, itu bukti bahwa kita benar kan?

Well, mungkin mulai saat ini aku harus lebih TEGAS lagi. Jangan SOK MANIS dan CARI MUKA.

Eeerrgghh...tapi masalahnya bukan itu juga sih. Ketika kita ingin memperluas network, maka kita harus bersikap baik pada semua orang kan??? Terus gimana dong dengan prinsip kita? Apakah kita bisa tetap berteman dengan dua orang yang bermusuhan tanpa melukai salah satunya?

Apakah kita bisa tetap berteman dengan SEMUA GOLONGAN?
Apa salah kalau kita ingin menjadi orang yang NETRAL dan UNIVERSAL?
Apa gak boleh kalo kita gak masuk ke KELOMPOK APAPUN?

Aku cuma pengin jadi manusia saja. Tanpa embel2 apa2.

Kamis, Februari 19, 2009

Aku Mbolos...

Pada jam ini, menit ini, detik ini, harusnya aku ada di kelas Citrus sinensis dan belajar bahasa Inggris bersama kawan2 dengan bimbingan Bapak Patrisius Djiwandono.

Tapi aku bolos.

Ah. Padahal aku sengaja ambil kelas ini karena pengin tau gimana rasanya diajar Pak Patris... tapi pada pertemuan pertama aku malah gak dateng...

Karena aku tertarik sama tulisan2 Pak Patris di blog dan pengin belajar gimana caranya English writing yang bagus...tapi aku nggak dateng. Oh My.

Tadi pas istirahat ada rapat dobel...jam 12 rapat MaC-Maple dan 12.30 rapat MCJC. Waktu rapat MaC-Maple anak2 pada request surat banyak yang harus jadi HARI INI JUGA, padahal aku masih ada rapat yang lain dsb jadi jam 1 pas baru bisa bikin suratna trus nge-print trus minta tandatangan Ketua trus kasi ke Sekretaris BEMU dsb birokrasi yang ribet banget! Aku memutuskan untuk bolos bentar 15 menit gitu deh dan ternyata LEBIH...

Waktu surat selesai di-print aku langsung ke kelas tapi jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.40 dan aku ngintip dan anak2 pada serius ngerjain soal dan AKU NGGAK BERANI MASUK dan akhirnya AKU MBOLOS.

Aduh pertemuan pertama dengan pak Patris yang sudah ditunggu2 tapi aku malah MBOLOS. Habis mau gimana lagi...bakal malu2in banget kalo aku nyelonong masuk stela telat 40 menit. Lagian telat lebih dari 15 menit kan gak diabsen...

Benernya aku sering bolos Bahasa Inggris. Semester lalu bolos 4-5 kali pertemuan dan aku nyantai aja tuh. Tapi sekarang kan beda. Dosennya beda. Dosennya yang udah lama bikin aku penasaran. Hoh...................................-_-"

Parahnya aku salah memperhitungkan waktu. Ternyata jam 14.25 kelas udah berakhir. Berarti kan aku masih punya waktu 15 menit buat bikin surat...dan 20 menit tambahan untuk ngeprint, TTD, dll sbelum jam 15.00 diserahin ke Ce Malinda...SEANDAINYA AKU IKUT.

Padahal ternyata tadi ada pre test TOEIC!!!

AKU BODOH.
Baka ne!
Gak isa memperhitungkan waktu!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Gak isa manajemen tugas!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Huh. Tau deh!

Rabu, Februari 18, 2009

Entrepreneurship Itu...Apa Sih? (2)

Welcome back to Entrepreneurship discussion...=D

Oke kita udah tau kalo Entrepreneurship itu gak melulu jualan. Masalahnya mengubah mindset itu bukanlah hal yang mudah. Terutama di Universitas ini yang notabene anak2nya udah mendapat pengaruh kuat dari Pak JDWI tentang konsep itu. Bahwa Entrepreneurship = Salesmanship. Apalagi secara personal, anak2 banyak yang lebih dekat sama sang Bapak daripada sama tim Entrepreneurship yang baru ini. Jelas aja mereka 'membela' orang yang lebih dekat...

Lantas, masalah besar apa yang dikhawatirkan bisa terjadi?
To the point yah, protes orangtua mahasiswa.
I'm afraid it's the biggest consequence of this conflict.

Mungkin aku berpikir terlalu jauh. Tapi begitu Bu Eli tadi menjelaskan tentang konsep2 Entrepreneurship baru ini, dan melihat gimana beberapa anak terang2an memprotes semua itu, dan mendengar gimana celetukan2 "menohok" dari mereka, aku jadi mikir yang enggak2.

Kita tahu Universitas ini didirikan oleh para praktisi bisnis. Dan gak bisa dimungkiri, banyak orangtua tertarik sama Univ ini karena beranggapan bahwa PARA PENDIRI itulah yang mendesain kurikulum di sini sedemikian rupa sehingga begitu lulus mak jeblusss...mereka langsung bisa ngelanjutin bisnis orang tua.

Tapi Bu Rektor-lah sebenarnya yang diserahi urusan "software" Univ ini. Para pendiri itu hanya mengurus "hardware"nya. Dan tau sendiri kan, Bu Rektor adalah seorang AKADEMISI sejati, bukan seorang PRAKTISI bisnis. Tentu dalam beberapa hal, mereka punya pandangan yang bertentangan.

Aku ngebayangin, abis kuliah tadi anak2 "pengikut" Pak JDWI pada 'wadul' ke ortu masing2, "Ma, Pa, sekarang di kampus gak boleh jualan lagi. Perusahaannya dibubarkan. Entrepreneurship cuman teori doang! Bayangin deh, tadi kita diputerin video-nya Bunda Teresa...masa mau jadi entrepreneur kita disuruh jadi suster???"

Well, gak persis kayak gitu kali yah. Tapi kata2 itu berdasarkan celotehan beberapa teman yang gak sengaja aku denger tadi. Masalahnya, kalo semua anak2 itu pada ngadu ke ortu-nya, dan--parahnya--ortunya juga gak ngerti dengan konsep asli Entrepreneurship...apa yang bakal terjadi??? Mereka bisa membentuk KOTMAET (Koalisi Orangtua Mahasiswa Anti Entrepreneurship Teoritis) dan melabrak gedung rektorat. Mereka bakal nyuruh anaknya pindah ke Univ lain yang bener2 ngajarin bisnis. Atau lebih parah, mereka bakal nyuruh anaknya putus kuliah dan langsung terjun ke bisnis ortu. Woaaa....
*Dramatisasi mode on*...wkwkwk

Dulu aku pernah baca di blog salah seorang Dosen kalo Univ ini berkurang peminatnya karena "banyak mahasiswa n dosen yang bukan cungkuoren lagi"... Pernyataan ini amat tertanam di benakku dan langsung mencelat keluar begitu denger konsep baru Entrepreneurship tadi. Tiba2 aku merasa ini bakal berkembang jadi lebih besar. Kebetulan tim baru Entrepreneurship itu emang iniren semua...dan meskipun bukan itu alasannya, mungkin banyak orangtua mahasiswa yang bakal menjadikannya kambing hitam...

Intinya, kalo nggak cepet diredam, pertentangan dalam konsep Entrepreneurship ini bakal melebar ke mana2, merusak ciri pluralitas, menimbulkan perpecahan intern, hingga akhirnya "meruntuhkan" Universitas ini bahkan sebelum berkembang...
Singkatnya, jadi layu sebelum kuncupnya mekar.

Wew, kayaknya aku mikir terlalu jauh yah? Hmmm gak usa diambil pusing lha...ini cuma hasil imajinasiku yang terlalu liar aja sih...^x^ Tentunya aku nggak berharap kejadian seperti itu bakal terjadi. NGGAK BANGET LAH. Tolong deh, aku cinta mati sama Ma Chung dan nggak mau rumah keduaku ini 'runtuh' begitu saja... (halah opo ae =p)

Tapi rasanya aku optimis deh. Maksudku, pas akhir2 kuliah Pak JDWI udah banyak kakak tingkat yang protes soal metode penilaian dsb. Kayaknya mereka pada bingung gitu loh. Kerasa banget klo konsepnya masih ge-je. Ada benernya komentar Mas Ekak kalo mungkin aja anak2 angkatanku tadi banyak yang protes...soalnya mereka baru jualan slama 1 semester. Masih seru2nya gitu kali yah. Sedangkan kakak tingkat kami udah melakukannya selama 3 semester dan mereka mulai merasa ini GE-JE BANGET. Jadi mungkin mereka bakal setuju sama konsep Entrepreneurship yang baru ini...

Yah, beginilah resiko mahasiswa Universitas baru. Jadi kelinci percobaan...hehehe tapi gak masalah sih. Kita jadi tahu bener gimana rasanya membangun sesuatu dari awal...=)

Entrepereneurship itu...Apa sih? (1)

Tadi pagi ada kuliah Entrepreneurship dan tau gak? Kayaknya Entrepreneurship semester ini bakal 8eda 8anget sama yang se8elum2nya... (sori ki8or 8ejat jadi huruf b diganti 8)

masalahnya aku mulai merasa kalo masalah ini 8akal jadi 8esar.
Sejak awal didirikan, kurikulum Entrepreneurship dipegang oleh seorang dosen (se8ut saja Pak JDWI). Intinya kita harus 8ikin perusahaan dan jualan dg target omzet tertentu tiap minggunya. nilai didapat dr pemenuhan omzet qt dan pengem8angan 8isnis (misal 8ikin pameran di mall or pasang iklan).

masalahnya adalah, 8anyak dosen2 (termasuk 8u rektor) yang gak setuju dengan cara seperti itu. mereka menganggap 8ahwa Entrepreneurship itu 8ukan hanya JUALAN alias Salesmanship, tapi juga di 8idang yg laen...kyk social entre, moral entre, political entre, dll

masalahnya lagi, selama 1 semester dengan Pak JDWI mindset anak2 udah kadung di-cap sperti itu. bahwa Entreperenurship = jualan. titik. bikin bisnis dan dapet duit banyak.

pada pertemuan tadi pagi, Dosen2 penanggung jawab matkul Entre mencoba mengubah mindset itu. mereka memaparkan berbagai macam kelemahan pada kurikulum Entrepreneurship yang lama dan tau gak? yah, seperti bisa diduga, anak2 banyak yang protes.

mereka lebih pengin praktek, dan beranggapan bahwa Entrepreneurship itu gak butuh teori. yang penting jualan. tapi ada juga anak2 yg lebi setuju entreperenurship kayak gini. intinya aku merasa bahwa kalo gak cepet diredam, ini bakal berkembang jadi masalah yang lebih besar...

masalahnya adalah, banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya di Universitas ini karena tertarik dengan ciri khas Entrepreneurship-nya. tau sendiri banyak di antara mahasiswa yang ortunya adalah praktisi bisnis, udah punya usaha mapan, dan pengin anaknya belajar gimana mengembangkan usaha itu. kebetulan di Ma Chung kita bisa langsung praktik bisnis, jadi mereka nganggep ini adalah suatu latihan yg bagus buat anak2 mereka.

sayangnya Ibu Rektor dan beberapa dosen lain kurang setuju dg penyalahgunaan matkul Entrepreneurship di kampus ini, misalnya kadang jadi ajang promosi perusahaan dll yg gak ada hubungannya ma pendidikan. nah ini kan gak bagus. padahal inti Entrepereneurship itu sendiri sebenernya ada di mengambil resiko/peluang dan mengembangkan potensi. dan ini bisa di berbagai bidang. Bisnis, akademik, moral. dll.

terus...apa masalah besarnya???

nah sek ya aku mau shalat Zhuhur dulu. sebenernya masih banyak yang mau ditulisin tapi nanti aku lanjutin lagi...=)

Minggu, Februari 15, 2009

PKM Diary (3) : Sanggar Mergosono

Tadi pagi kami bertiga (minus Vania) mengunjungi Sanggar Mergosono punya Mbak Ayik. Beda sama yang lain, sanggar ini gak punya tempat khusus dan numpang di pelataran SDN Sanggar Mergosono IV. Tempatnya bener2 khas di pemukiman jelata...mepet 'gunung sampah' dan deket kali...

Udah lama nggak ke sana, jadi kangen sama anak2nya...hehehe emang sih, di antara semua sanggar secara pribadi rasanya aku paling dekat sama anak2 di sini. Nah, kebetulan tadi Mbak Ayik lagi ngajarin anak2 caranya pegang sumpit...terus kita main "oper sumpit" dan akhirnya menghias sumpit...sementara yang kecil2 pada mewarna...

Pokoknya tadi tuh tingkahnya anak2 konyol banget deh...!!! Menurutku anak2 di Mergosono lebih terbuka dan gampang akrab...aku sendiri jadi ngerasa nyaman sama mereka...hu uh...jadi inget santri2ku...=(
Nah ini dia foto2 tadi...


"Si tampan tapi bengal"

"Ini nih adek favoritku...^x^"


"Menghias sumpit yuuukkk!!!"

"Ayo mewarnai! Lho, krayon-ku mana yah?"

"Sekali ini ngoper kertas pake sumpit...-_-"

"Deu...serius amat Dek...=p"

"Sepakbola tanpa gawang"

Tunggu petualangan kami selanjutnya...^^