Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 04, 2012

Perenungan

Hari ini aku sudah mengecewakan kedua orangtuaku. Aku sadar, dari dulu aku terbiasa meremehkan perkataan mereka. Dari dulu aku terbiasa tidak menghiraukan mereka. Akibatnya, aku menjadi kurang peka. Aku nggak peka sama perasaan mereka. Aku nggak peka bahwa aku udah melakukan sesuatu yang sangat mengecewakan mereka.

Aku merasa kekecewaan mereka sudah bertumpuk-tumpuk, sudah dipendam dari lama sekali, dan hari ini mungkin adalah puncaknya. Bisa ada yang lebih besar lagi kalau aku terus melakukan tingkahku ini. Aku anak yang nggak bertanggung jawab.

Aku mengaku sangat menyayangi bapakku, tapi aku nggak melakukan sesuatu pun untuk menyenangkan beliau. Yang kulakukan malah menyakiti hati beliau. Padahal bapakku lah yang dari dulu selalu ada di sampingku di saat aku membutuhkan. Bapakku yang rela mengorbankan apapun supaya aku bisa sekolah dan belajar dengan tenang, meskipun beliau banting tulang sendirian. Bapakku yang rela menanggung beban yang sangat berat demi keempat anaknya, dan tak sedikitpun beliau berniat mengalihkan beban itu kepada kami, meskipun beliau sudah terlalu tua dan rapuh untuk menanggungnya. Dan aku, aku anak yang nggak tahu diri. Aku tahu bahwa yang kulakukan ini sesuatu yang nggak benar. Aku tahu, tapi aku tetap melakukannya. Dan semakin menyakiti hati bapakku. Beliau yang nggak pernah marah, hari ini membentak keras padaku.

Ibuku, meskipun aku sering kesal padanya dan kadangkala membencinya, tapi aku tahu dia pun sangat menyayangiku. Ibuku yang keras, terlalu gengsi untuk mengakui kelemahannya, hari ini menangis di depanku. Biasanya beliau akan memarahiku dengan kata-kata yang tajam dan membuatku semakin kesal, tapi kali ini dia menasihatiku sambil menangis. Ibuku yang terbiasa menangis tanpa suara, hari ini menangis dengan suara terisak-isak di kamarnya lama sekali. Pagi ini, saat waktu tahajjud, ibuku mengirimiku SMS yang membuatku sedih. Aku merasa berdosa telah menyakiti hati kedua orangtuaku.

Semuanya karena aku jatuh pada laki-laki itu. Meskipun aku tahu dia laki-laki yang sangat baik dan sabar, tetapi dia mempunyai satu kelemahan vital: kekosongan spiritualitas. Kekosongan ini membuatnya tidak bisa tegas, selalu bimbang dan plin-plan, tidak punya pegangan dan arah yang harus dituju.

Suatu kelemahan yang sudah ksuadari sejak awal, tetapi aku harap perlahan bisa membantunya untuk berubah, tapi aku salah. Dia memang tidak bisa berubah karena tidak memiliki kemauan kuat untuk berubah. Aku menyadari, jauh di dalam, sebenarnya dia adalah seorang yang materialistis, mengukur segala sesuatunya dengan materi. Materialistis di sini bukan berarti “matre” atau “banci duit”, enggak, dia bukan orang yang oportunis atau menghalalkan segala cara demi mendapat uang. Dia orang yang beretika dan sebisa mungkin tidak merugikan orang lain dalam mencari uang. Dia orang yang jujur dalam berbisnis.

Namun dia menempatkan kebebasan finansial sebagai tujuan hidupnya yang paling utama. Well, ini nggak aneh, sebagian besar orang pun memimpikannya. Aku pun demikian. Hanya saja, kadang dia mem-value kebebasan finansial itu jauh di atas segalanya, termasuk Tuhan. Dia mengaku saat ini agnostis. Dia merasa tidak bisa mencari hakikat Tuhan dalam kondisi kekurangan finansial. Dia berpikir, “aku harus mapan dulu sebelum bisa mencari Tuhan dengan tenang”.

Aku bisa maklum karena memang nilai-nilai di keluarganya memposisikan “menjadi kaya itu harus”. Ya, memang harus. Papanya sangat keras dalam mengarahkan anak-anaknya untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Satu hal yang aku juga salut. Meski kadang2 dia jadi stress dan tertekan, tapi itu sebanding dengan hasil yang ia terima.

Tapi kamu tahu, hidup di dunia ini enggak selamanya bergantung kepada materi. Barangkali saat ini dia masih muda, masih begitu bersemangat mengejar kesenangan duniawi. Namun akan ada saatnya di mana dia mencapai puncak, ketika segala kesenangan duniawi telah ia raih, tetapi ia berada dalam kekosongan. Kasus-kasus klasik yang dialami para selebriti dan orang ternama. Orang-orang tenar yang meninggal karena overdosis, orang berprestasi yang terjerat berbagai skandal memalukan, public figure yang tiba-tiba ‘bertobat’ dan menjauh dari sorot kamera, semua itu karena mereka menyadari satu lubang dalam jiwa yang lupa mereka tambal: kekosongan spiritualitas.

Banyak orang yang meremehkannya. Banyak orang yang beranggapan Tuhan dan agama itu nggak penting. Toh mereka yang ‘sok suci’, mengaku beragama paling alim, ujung2nya juga korupsi, berebut kekuasaan, dan aneka jeratan duniawi lainnya. Zaman sekarang, begitu mudah menemukan orang yang agnostis, atheis, humanis; yang penting berbuat baik kepada sesama dan tidak merugikan orang lain, nggak perlu menyembah Tuhan. Pemikiran2 sekuler itu, aku paham, semuanya adalah buah dari kekecewaan mereka terhadap kelakukan insan beragama yang tidak mencermikan nilai2 luhur agamanya.

Aku sangat bersyukur dibesarkan dalam lingkungan yang memuliakan Tuhan dan juga manusia. Aku sadar, semakin awal kita mengenal Tuhan, semakin damai kehidupan kita. Ketika yang kamu kejar adalah hal2 duniawi, kamu akan senang ketika mendapatkannya, tapi juga stress dan linglung ketika kehilangannya. Tapi, ketika hidupmu ini kamu baktikan pada Tuhan, maka apapun yang datang dan pergi dalam hidupmu, akan selalu bisa kamu terima dengan ikhlas. Apapun yang kamu lakukan dalam hidupmu didasari dengan niat ibadah. Kamu akan selalu punya pegangan yang bisa diandalkan, yang tidak akan pernah pergi dari sisimu. Berharaplah dan bergantunglah hanya kepada Tuhan, bukan pada manusia.

Keluargaku, khususnya ayahku, adalah contohnya. Ketika keluarga kami mendapat masalah yang sangat berat, beliau dengan luar biasa mampu bertahan. Orang lain mungkin akan stress, linglung, mencoba bunuh diri dan lari dari masalah. Tapi bapakku tetap tenang, meski dia cuma punya satu senjata, yaitu doa. Meskipun kadang banyak yang meragukannya, tapi dia bersikeras dan terus teguh memegang prinsipnya. Dia betul-betul mempercayai bahwa Tuhan nggak akan meninggalkan hambanya yang saleh dan sabar. Dan bantuan demi bantuan terus mengalir kepada kami, kadang tak terduga datangnya. Hanya orang yang mempunyai spiritualitas yang tinggi, iman dan keyakinan yang teguh, yang mampu bertahan dalam kondisi demikian. Dan aku berharap, orang seperti itulah yang akan menjadi pendamping hidupku kelak…

Aku sadari bahwa aku ini hanyalah seorang perempuan. Aku cuma seruas tulang rusuk. Betapapun orang bilang aku ini pintar, kuat, mandiri, tapi pada saatnya nanti, aku pun ingin mengabdi dan melayani. Aku pun ingin membuatkan kopi bagi laki-laki yang kusayangi dan kuhormati. Aku pun ingin memijat bahunya di kala dia lelah, mencuci dan menyetrika bajunya sebelum dia pergi bekerja. Aku pun ingin dengan tulus hati menuruti semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Untuk itu, aku pun harus memilih orang yang benar-benar tepat.

Dulu, aku pikir aku bisa mengarahkan pasanganku ke jalan yang benar, tapi ternyata tidak. Fitrah perempuan adalah ingin membalas budi dan menyenangkan pasangannya, meski kadang bertentangan dengan logikanya. Fitrah perempuan adalah merasa tersanjung jika disayangi begitu dalam, dan merasa kasihan kepada laki-laki yang seolah tidak bisa hidup tanpanya. Fitrah itu pun ternyata melekat padaku, sehingga sulit aku melepaskannya, meskipun logika ku berkata ini tidak benar.

Aku cuma tulang rusuk, yang membutuhkan tubuh yang kuat sebagai tempatku bernaung. Ketika aku menempel pada sebuah tubuh yang berjalan ke arah yang salah, maka akupun akan ikut salah. Ketika aku menempel pada tubuh yang berjalan memutar-mutar tanpa arah, akupun akan ikut tersesat. Yang kubutuhkan adalah tubuh yang kuat dan berjalan ke arah yang benar, sehingga aku pun akan terbawa ke sana.

Aku tidak hanya membutuhkan pendamping, tetapi juga pemimpin. Aku butuh orang yang bisa mengarahkan diriku yang bebal, meski mungkin menyakiti hatiku dan berlawanan dengan keinginanku, tapi dia tahu dia melakukannya demi kebaikanku. Aku nggak butuh orang yang menuruti semua keinginanku seperti kacung, tapi enggak bisa membimbingku ke jalan yang benar.

Aku tahu Tuhan mendengar doa-doaku, hanya Dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkannya.

Senin, Desember 13, 2010

Misteri Jodoh



Jodoh itu misteri. Dari sekian banyak tantangan yang Tuhan berikan kepada kita, menurut saya jodoh adalah sesuatu yang paling tidak bisa kita usahakan. Kita bisa saja bekerja sekeras-kerasnya supaya bisa kaya. Kita bisa saja belajar setekun-tekunnya supaya jadi pintar. Kita juga bisa berdandan seheboh-hebohnya supaya bisa jadi cantik. Tapi supaya dapat jodoh yang sesuai??? Kita gak bisa memaksakan kehendak. Sebab jodoh itu menyangkut perasaan paling pribadi dari orang lain, nggak hanya melibatkan diri kita saja.

Jodoh itu takdir. Sebab ia menyangkut kelahiran seorang manusia. Coba, kalau misalnya bapak-ibu kita enggak jodoh, pasti kita nggak akan lahir. Nyatanya kita udah tumbuh segede ini. Jadi pertemuan bapak-ibu kita dulu pastinya sudah direncanakan oleh Tuhan supaya kita bisa lahir ke dunia ini.

Karenanya saya percaya belahan jiwa (soulmate) itu ada. Saya percaya Tuhan menciptakan kita berpasang-pasangan. Ketika meniupkan ruh dalam segumpal darah kita, Dia sudah menetapkan siapa yang akan mendampingi hidup kita hingga akhir perjalanan di dunia. Masalahnya, kita tidak tahu siapa itu, dan kita tidak bisa memilih.

Kalau disuruh memilih, tentunya saya pilih Maher Zain jadi soulmate saya. Selain luar biasa cakep dengan suara yang luar biasa merdu, terkenal, mapan, orangnya juga saleh dan dijamin bisa bikin bahagia dunia-akhirat. Eh, tapi ternyata Tuhan sudah pasangkan dia dengan istrinya sehingga saya nggak kebagian >.<

Intinya, jodoh itu...susah ditebak. Meskipun kita cinta banget sama si A, eh ternyata gagal juga. Meskipun kita awalnya gak suka sama si B, eh ternyata malah jadi. Berapa kalipun kita pacaran, siapapun pacar-pacar kita, siapapun orang-orang yang pernah mengisi hati kita, nggak akan bisa menghalangi tangan Allah mempertemukan kita dengan pasangan sejati kita.

Bisa jadi pasangan kamu saat ini adalah jodoh kamu, tapi bisa juga bukan. Bisa jadi kamu pacaran 10 tahun terus putus, eh yang jadian 3 bulan langsung nikah. Allah Maha Tahu. Allah sudah menyiapkan pasangan terbaik bagi hamba-hambaNya, yang perlu kita lakukan hanya menunggu, dan mempersiapkan diri agar ketika sang jodoh itu datang, kita sudah siap menyambutnya dengan sukacita. Amiiinnn!!!

Sabtu, Januari 10, 2009

My Bestest Dad

-The Princess and The King-

Ngomong soal bapakku, gak akan habis kata2 pujian dipake. He's the bestest man in the world I've ever seen. Better than Obama. Better than Gandhi. Better than Luther. For me, he's not only the best, but the bestest.

I've seen so many illogical sacrifice he had done for me. For the sake of his family. Bapakku tipe family man sejati. Dia tipe ayah yang gak bisa jauh2 dari keluarga. Dia bukan tipe orang yang suka kerja keras nun jauh di sana dan meninggalkan keluarganya sendirian. Dia tipe ayah yang gak suka ngelihat anak-anaknya tumbuh dewasa tanpa kehadirannya. Dia tipe ayah yang selalu ada setiap dibutuhkan, selalu setia kapanpun diperlukan. Dia tipe ayah yang pasti diinginkan semua anak di dunia ini. Dan aku beruntung banget, memilikinya sebagai ayahku...

Aku hampir nggak pernah lihat Bapakku marah. Cadangan kesabarannya yang luar biasa melimpah ruah seringkali bikin orang2 di dekatnya terheran-heran. Susah deh kalo mau musuhan sama bapakku. Orangnya gak pernah cari gara2 dan gak pernah menyulut emosi orang. Selalu mengalah, selalu memberi kesempatan bagi yang lain, selalu dicintai dan dinanti. That's my Papa.

Bapakku orang yang suka berada di comfort zone. Gak suka neko2 dan suka hidup tenang. Impiannya adalah suatu saat bisa kembali ke kampung, bertani di tegalan...=D Bapakku suka banget denger lagu2 nostalgia dan campursari, terutama Ebiet G.Ade, Gombloh, Iwan Fals, Didi Kempot, Cak Diqin, dll (ini juga yang akhirnya nular ke aq...hohoho) Lagu favoritnya berjudul "Lagu untuk Sebuah Nama", karangannya Ebiet G.Ade. Katanya sih lagu ini ngingetin dia pas zaman2 SMP dulu...waktu dia naksir cewek dan gak berani ngomong. Hehehe...

Bapakku orang yang gak jaim sama sekali. Seperti laki2 pada umumnya, dia gak lepas dari kebiasaan2 'manusiawi' seperti: suka ngorok, ngiler, dan kentut sembarangan (hahaha...xp). Tapi salutnya, dia GAK NGEROKOK. Sekali2 pernah sih kalo lagi ngumpul sama temen2nya, tapi gak pernah sampe ketagihan. Rumah saia higienis dan sehat, bebas nikotin. Hohoho...

Berlawanan sama ibuku, bapakku adalah orang yang super pendiam. Kalo senang cukup ditunjukkan sama senyumnya yang sederhana. Kalo marah cukup diam tanpa kata2. Pernah baca buku Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata? Bapakku nyaris persis dengan ayah Andrea yang dia lukiskan di bukunya. Pendiam. Tulus. Rendah hati. Tapi punya sejuta kasih dan pengharapan di dalam hatinya.

Kasihnya nggak pernah berhenti. Mengalir deras buatku dan keluargaku, sampai aku nggak bisa lagi menampungnya. Tumpah, meluber ke mana-mana. Menghujani hari-hari kami. Mengaliri langkah-langkah kami. Membentuk sebuah sungai yang membawa kami mengarungi kehidupan...

Di dunia ini, dialah satu2nya orang yang nggak mau aku kecewakan. Satu2nya orang yang bisa bikin aku melakukan apapun demi melihatnya tersenyum. Buat dialah semua yang udah dan akan diraih aku persembahkan. Coz I'm really proud of being his daughter...

...and I really wanna make you proud of me.

I luph ya, Dad^^

Senin, Desember 15, 2008

Cinta itu seperti bis....

Kata2 ini aq dapet dari Bulletin fs-nya Pak Hari...
dalem banget rasana.....remind me to someone...=(

Cinta itu sama seperti orang yang menunggu bis.
Sebuah bis datang, dan kamu bilang, "Wah.. terlalu penuh, sumpek,
bakalan nggak bisa duduk nyaman neh! Aku tunggu bis berikutnya aja deh."

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, "Aduh
bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah.."

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia
tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi
kamu bilang, "Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku". Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.
Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.
Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju! Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.
-----

Moral dari cerita ini: sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.
Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon', tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat..tapi kamu masih bisa
berteriak 'Kiri' ! dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.
Cerita ini juga berarti, kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang
sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu?

Selasa, Desember 02, 2008

saia cinta Indonesia!!!

info lagi niyh teman...dari temannya si ussyong lalala...

"Suatu pagi di bandar lampung, menjemput seseorang dibandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut sajasi bapak.Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat bicara gaya melayu, english, (atau singlish?) beliaumenceritakan pengalaman2 hidupnya kepada kami yang masihmuda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga,bahkan percintaan hehehe..

"Your country is so rich!"Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu..
"Indonesia doesnt need d world, but d world need Indonesia "
"Everything can be found here in Indonesia , u dont need d world"
"Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan , dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia !"

"Singapore is nothing, we cant be rich without indonesia .500.000 orang indonesia berlibur ke singapura setiap bulan. bisa terbayang uang yang masuk ke kami? apartemen2dan condo terbaru kami yang membeli pun orang2 indonesia ,ga peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah rumahsakit kami, orang indonesia semua yang berobat."

"Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketikaasap hutan indonesia masuk? ya benar2 panik. sangatberasa, we are nothing.""Kalian ga tau kan klo agustus kemarin dunia krisis beras.termasuk di singapura dan malaysia ? kalian di indonesiadengan mudah dapat beras"

"Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2.. lihatlahnegara kami, air bersih pun kami beli dari malaysia . Sayapernah ke kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata.Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Petani disanamenjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik China . Dan si pabrikmenjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnyasendiri"

"Kalian sadar tidak klo negara2 lain selalu takutmeng-embargo Indonesia ? Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut klo kalian menjadi mandiri,makanya tidak di embargo. harusnya KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Beli lah dari petani2kita sendiri, beli lah tekstil garmen dari pabrik2sendiri. Tak perlu kalian impor klo bisa produksi sendiri."

"Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI,Indonesia will rules the world.."

Peace and Regards
I. C. Putranto
Transaction Center Dubai Halliburton
PO BOX 3111
Al Moosa Tower 1
Sheikh Zayed Road Dubai UAE

dapet dari www.slam.co.nr

Selasa, Oktober 14, 2008

Aku cinta Ma Chung!

Abis baca blog-na anak Curcuminoid…Machung ai wo, jadi ada sedikit perasaan getir. Gak tau yah. Mungkin sedikit iri karena kekompakan mereka yang luar biasa, atau karena kekerenan anggota2nya, atau karena meratapi diri sendiri (dan kelompok sendiri) yang gak (belum) bisa se-mboyzz ituh…huhuhu

Aduh rada pusing nih. Uda jam 1 malem, lebih 12 menit. Dari tadi ol 3 jam browsing sesuatu yang gak penting2…sampe akirna nemu blog Curcuminoid ituh dan baca smua artikelna sampe tuntaaaaasssss. Bener deh! Aq juga heran, rasa-na kayak kena magnet gitu dan gak bisa menahan diri untuk ngebaca curhat2 mereka…huhuhu

Anyway, baca post-na Pak Patrisius juga, soal pluralitas yang dijual murah di Ma Chung. Hehehe, lucu banget deu gaya nulisna. Emang sih, aq juga ngrasa, kaiak-na di dunia ini gak ada deh tempat yang se-plural dan se-toleran Ma Chung. Mao orang Cina mpe orang Arab…available smuahh!! Mao Muslim mpe Hindu…ada smuahhh!!! Rasa-na jadi kaiak miniatur Indonesia, another version of Taman Mini…hehehe.

Hebatna, smua bisa membaur tanpa kesenjangan. Coba deh orang2 Maluku, Sampit, Poso, dsb yang hobi rusuh2 SARA itu dateng ke Ma Chung. I wonder gimana kagetnya mereka melihat bagaimana perbedaan tidak menghalangi kita untuk berteman. Dan kenapa sih orang2 itu selalu berusaha mencari-cari perbedaan sementara kita masih punya BUANYAK persamaan? Kenapa sih mereka SUKA BANGET cari2 alasan untuk MUSUHAN? Coba aja mereka idup di Ma Chung sbulaaannnn aja, abisss deh smua krusuhan ntuh. Hu uh.

Well, I’m serious. Really there’s no place where u can find such a wonderful plurality like in Ma Chung…

Rasana pilihanQ untuk masuk universitas ini tepat banget deh. Dari kecil aq slalu hidup di lingkungan homogen. Dari TK mpe SMP slalu skula di skula Islam atau Madrasah. Baru akirna waktu SMA ‘memberontak’ dan pengin nyoba di skula umum. Mau kulya, smakin ingin mencoba tantangan baru. And I prefer diz place.

Really. I feel like it’s not an accident. Ini bukan kebetulan. I’m not accidentally getting here. Aku ada di sini karena TAKDIR. Dan aku percaya banget, takdir itu akan membawa hidupku menuju jalan yang lebih baik.

Allah, terimakasih. Aku bahagia. Aku bahagia sudah ditempatkan di tempat yang begini menakjubkan. Aku bahagia sudah dipertemukan dengan orang-orang yang begitu luar biasa. Aku bahagia diberi kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Aku sungguh bahagia.

Aku percaya takdir bisa dirasakan. Mungkin banyak orang yang nggak benar2 paham keputusanku untuk memilih Ma Chung. Membuang kesempatan semua PMDK, UM, SPMB, dan apalah segala hal yang terlihat keren dan membanggakan. Aku Cuma pilih Ma Chung. Only. Prime choice, bukan cadangan.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini, kira2 bulan Agustus tahun 2007, waktu ikut Technical Meeting lomba English Writing ma Sarah, rasa-na udah ada smacam ‘chemistry’ nempel di hati (upuh ae^^). Dan smakin lama menjalani hari2 di sini, aku smakin yakin, it’s my place. It’s the place where I can find my real self. Inilah kehidupan yang akhirnya aku dapatkan.

Masih banyak yang pingin aq ungkapkan…tapi udah hampir jam 2 pagi. Hmm…mungkin lain kali aq sambung lagi.

Wo Ai Ma Chung!!!