Rabu, April 04, 2012
Perenungan
Aku merasa kekecewaan mereka sudah bertumpuk-tumpuk, sudah dipendam dari lama sekali, dan hari ini mungkin adalah puncaknya. Bisa ada yang lebih besar lagi kalau aku terus melakukan tingkahku ini. Aku anak yang nggak bertanggung jawab.
Aku mengaku sangat menyayangi bapakku, tapi aku nggak melakukan sesuatu pun untuk menyenangkan beliau. Yang kulakukan malah menyakiti hati beliau. Padahal bapakku lah yang dari dulu selalu ada di sampingku di saat aku membutuhkan. Bapakku yang rela mengorbankan apapun supaya aku bisa sekolah dan belajar dengan tenang, meskipun beliau banting tulang sendirian. Bapakku yang rela menanggung beban yang sangat berat demi keempat anaknya, dan tak sedikitpun beliau berniat mengalihkan beban itu kepada kami, meskipun beliau sudah terlalu tua dan rapuh untuk menanggungnya. Dan aku, aku anak yang nggak tahu diri. Aku tahu bahwa yang kulakukan ini sesuatu yang nggak benar. Aku tahu, tapi aku tetap melakukannya. Dan semakin menyakiti hati bapakku. Beliau yang nggak pernah marah, hari ini membentak keras padaku.
Ibuku, meskipun aku sering kesal padanya dan kadangkala membencinya, tapi aku tahu dia pun sangat menyayangiku. Ibuku yang keras, terlalu gengsi untuk mengakui kelemahannya, hari ini menangis di depanku. Biasanya beliau akan memarahiku dengan kata-kata yang tajam dan membuatku semakin kesal, tapi kali ini dia menasihatiku sambil menangis. Ibuku yang terbiasa menangis tanpa suara, hari ini menangis dengan suara terisak-isak di kamarnya lama sekali. Pagi ini, saat waktu tahajjud, ibuku mengirimiku SMS yang membuatku sedih. Aku merasa berdosa telah menyakiti hati kedua orangtuaku.
Semuanya karena aku jatuh pada laki-laki itu. Meskipun aku tahu dia laki-laki yang sangat baik dan sabar, tetapi dia mempunyai satu kelemahan vital: kekosongan spiritualitas. Kekosongan ini membuatnya tidak bisa tegas, selalu bimbang dan plin-plan, tidak punya pegangan dan arah yang harus dituju.
Suatu kelemahan yang sudah ksuadari sejak awal, tetapi aku harap perlahan bisa membantunya untuk berubah, tapi aku salah. Dia memang tidak bisa berubah karena tidak memiliki kemauan kuat untuk berubah. Aku menyadari, jauh di dalam, sebenarnya dia adalah seorang yang materialistis, mengukur segala sesuatunya dengan materi. Materialistis di sini bukan berarti “matre” atau “banci duit”, enggak, dia bukan orang yang oportunis atau menghalalkan segala cara demi mendapat uang. Dia orang yang beretika dan sebisa mungkin tidak merugikan orang lain dalam mencari uang. Dia orang yang jujur dalam berbisnis.
Namun dia menempatkan kebebasan finansial sebagai tujuan hidupnya yang paling utama. Well, ini nggak aneh, sebagian besar orang pun memimpikannya. Aku pun demikian. Hanya saja, kadang dia mem-value kebebasan finansial itu jauh di atas segalanya, termasuk Tuhan. Dia mengaku saat ini agnostis. Dia merasa tidak bisa mencari hakikat Tuhan dalam kondisi kekurangan finansial. Dia berpikir, “aku harus mapan dulu sebelum bisa mencari Tuhan dengan tenang”.
Aku bisa maklum karena memang nilai-nilai di keluarganya memposisikan “menjadi kaya itu harus”. Ya, memang harus. Papanya sangat keras dalam mengarahkan anak-anaknya untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Satu hal yang aku juga salut. Meski kadang2 dia jadi stress dan tertekan, tapi itu sebanding dengan hasil yang ia terima.
Tapi kamu tahu, hidup di dunia ini enggak selamanya bergantung kepada materi. Barangkali saat ini dia masih muda, masih begitu bersemangat mengejar kesenangan duniawi. Namun akan ada saatnya di mana dia mencapai puncak, ketika segala kesenangan duniawi telah ia raih, tetapi ia berada dalam kekosongan. Kasus-kasus klasik yang dialami para selebriti dan orang ternama. Orang-orang tenar yang meninggal karena overdosis, orang berprestasi yang terjerat berbagai skandal memalukan, public figure yang tiba-tiba ‘bertobat’ dan menjauh dari sorot kamera, semua itu karena mereka menyadari satu lubang dalam jiwa yang lupa mereka tambal: kekosongan spiritualitas.
Banyak orang yang meremehkannya. Banyak orang yang beranggapan Tuhan dan agama itu nggak penting. Toh mereka yang ‘sok suci’, mengaku beragama paling alim, ujung2nya juga korupsi, berebut kekuasaan, dan aneka jeratan duniawi lainnya. Zaman sekarang, begitu mudah menemukan orang yang agnostis, atheis, humanis; yang penting berbuat baik kepada sesama dan tidak merugikan orang lain, nggak perlu menyembah Tuhan. Pemikiran2 sekuler itu, aku paham, semuanya adalah buah dari kekecewaan mereka terhadap kelakukan insan beragama yang tidak mencermikan nilai2 luhur agamanya.
Aku sangat bersyukur dibesarkan dalam lingkungan yang memuliakan Tuhan dan juga manusia. Aku sadar, semakin awal kita mengenal Tuhan, semakin damai kehidupan kita. Ketika yang kamu kejar adalah hal2 duniawi, kamu akan senang ketika mendapatkannya, tapi juga stress dan linglung ketika kehilangannya. Tapi, ketika hidupmu ini kamu baktikan pada Tuhan, maka apapun yang datang dan pergi dalam hidupmu, akan selalu bisa kamu terima dengan ikhlas. Apapun yang kamu lakukan dalam hidupmu didasari dengan niat ibadah. Kamu akan selalu punya pegangan yang bisa diandalkan, yang tidak akan pernah pergi dari sisimu. Berharaplah dan bergantunglah hanya kepada Tuhan, bukan pada manusia.
Keluargaku, khususnya ayahku, adalah contohnya. Ketika keluarga kami mendapat masalah yang sangat berat, beliau dengan luar biasa mampu bertahan. Orang lain mungkin akan stress, linglung, mencoba bunuh diri dan lari dari masalah. Tapi bapakku tetap tenang, meski dia cuma punya satu senjata, yaitu doa. Meskipun kadang banyak yang meragukannya, tapi dia bersikeras dan terus teguh memegang prinsipnya. Dia betul-betul mempercayai bahwa Tuhan nggak akan meninggalkan hambanya yang saleh dan sabar. Dan bantuan demi bantuan terus mengalir kepada kami, kadang tak terduga datangnya. Hanya orang yang mempunyai spiritualitas yang tinggi, iman dan keyakinan yang teguh, yang mampu bertahan dalam kondisi demikian. Dan aku berharap, orang seperti itulah yang akan menjadi pendamping hidupku kelak…
Aku sadari bahwa aku ini hanyalah seorang perempuan. Aku cuma seruas tulang rusuk. Betapapun orang bilang aku ini pintar, kuat, mandiri, tapi pada saatnya nanti, aku pun ingin mengabdi dan melayani. Aku pun ingin membuatkan kopi bagi laki-laki yang kusayangi dan kuhormati. Aku pun ingin memijat bahunya di kala dia lelah, mencuci dan menyetrika bajunya sebelum dia pergi bekerja. Aku pun ingin dengan tulus hati menuruti semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Untuk itu, aku pun harus memilih orang yang benar-benar tepat.
Dulu, aku pikir aku bisa mengarahkan pasanganku ke jalan yang benar, tapi ternyata tidak. Fitrah perempuan adalah ingin membalas budi dan menyenangkan pasangannya, meski kadang bertentangan dengan logikanya. Fitrah perempuan adalah merasa tersanjung jika disayangi begitu dalam, dan merasa kasihan kepada laki-laki yang seolah tidak bisa hidup tanpanya. Fitrah itu pun ternyata melekat padaku, sehingga sulit aku melepaskannya, meskipun logika ku berkata ini tidak benar.
Aku cuma tulang rusuk, yang membutuhkan tubuh yang kuat sebagai tempatku bernaung. Ketika aku menempel pada sebuah tubuh yang berjalan ke arah yang salah, maka akupun akan ikut salah. Ketika aku menempel pada tubuh yang berjalan memutar-mutar tanpa arah, akupun akan ikut tersesat. Yang kubutuhkan adalah tubuh yang kuat dan berjalan ke arah yang benar, sehingga aku pun akan terbawa ke sana.
Aku tidak hanya membutuhkan pendamping, tetapi juga pemimpin. Aku butuh orang yang bisa mengarahkan diriku yang bebal, meski mungkin menyakiti hatiku dan berlawanan dengan keinginanku, tapi dia tahu dia melakukannya demi kebaikanku. Aku nggak butuh orang yang menuruti semua keinginanku seperti kacung, tapi enggak bisa membimbingku ke jalan yang benar.
Aku tahu Tuhan mendengar doa-doaku, hanya Dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkannya.
Minggu, November 07, 2010
Menjadi Muslim yang Sesungguhnya
Untung saya pasang Feedjit Live Traffic. Dari situ saya bisa tahu gimana caranya pengunjung bisa nyasar ke blog saya. Salah satu kata kunci via Google yang paling sering nyasar di blog saya adalah: "toleransi Islam dengan umat agama lain", "Islam dan toleransi antarumat beragama", dan sejenisnya.
Dari sini saya menangkap, bahwa ada rasa keingintahuan yang sangat tinggi dari umat Islam (atau umat agama lain) di Indonesia untuk mengetahui, gimana sih sebenernya Islam memandang toleransi antarumat beragama itu? Gimana sesungguhnya ajaran Islam dalam menyikapi perbedaan itu?
Rasa keingintahuan ini bisa jadi muncul karena maraknya aksi radikalisme yang mengatasnamakan umat Islam satu dekada belakangan. Umat Islam pada umumnya, yang terbiasa hidup damai, kemudian menjadi resah dan gundah dengan kehadiran para ekstremis ini. Apa benar agama yang mereka anut selama ini mengajarkan hal demikian? Bagaimana sebenarnya cara Islam bergaul dengan umat agama lain? Soal itu sudah saya bahas dalam artikel sebelumnya, di sini dan di sini.
Yang ingin saya bahas sekarang adalah, bahwa ternyata, umat Islam memiliki "kerinduan" untuk mendalami makna Islam. Ada keinginan untuk mencari jati diri, menjadi muslim yang sesungguhnya.
Saya pun berusaha mencari model muslim yang ideal. I'm also looking for ideal muslim role model. I can mention some names who has capability/integrity/personality that I respect of: Ahmad Dahlan, Quraish Shihab, Mario Teguh, Agus Mustofa, Abdullah Gymnastiar, Maher Zain, etc. Mereka adalah muslim-muslim yang saya kagumi, merekalah yang menurut saya mendekati sosok muslim ideal; cerdas, berkepribadian baik, mengamalkan ajaran agama tanpa menodai lingkungan sekitarnya, serta mencari kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka itu yang menurut saya benar-benar mengenal Allah, memahami sifat-sifatNya, dan tahu apa yang sebenarnya Dia inginkan. Merekalah umat Nabi Muhammad yang sejati, mereka muslim sesungguhnya.
Saya merasa ada kesalahan dalam pemahaman agama umat Islam Indonesia. Barangkali ini ada kaitannya dengan sejarah awal mula penyebaran Islam di Indonesia. Islam, khususnya di Pulau Jawa, diperkenalkan melalui perantara Wali Songo. Kebanyakan dari mereka beraliran 'abangan', yang memanfaatkan tradisi Hindu-Budha untuk mempermudah penyebaran Islam ke Jawa. Karenanya sampai saat ini masih ada tradisi yang campur aduk. Kedatangan Islam sesungguhnya hanya membawa perubahan dari segi ritual saja, tapi belum mengubah cara hidup orang Indonesia secara keseluruhan.
Contohnya, umat Islam Indonesia masih suka berprasangka buruk (su'udzon), masih suka bermalas-malasan, tidak mau mandiri, tidak bisa menerima perbedaan, suka menjegal orang lain yang sudah maju daripada membangun diri sendiri untuk mengejar ketertinggalan, dsb. Tentunya ini bukan generalisasi atas sikap umat Islam Indonesia seluruhnya, namun kebanyakan muslim tradisional Indonesia masih bersikap seperti ini.
Padahal, Al-Quran sama sekali tidak mengajarkan hal-hal sedemikian. Lalu kenapa kok bisa muslim Indonesia keliru memahaminya? Salah satu sebabnya adalah, di Indonesia, Al-Quran hanya DIBACA saja, tapi tidak DIPAHAMI isinya. Membaca Al-Quran dianggap harus dalam Bahasa Arab, entah mengerti atau tidak maknanya, yang penting membaca. Orang-orang banyak yang malas membaca Al-Quran terjemahan, karena dianggap tidak ada pahalanya, padahal ya gunanya Al-Quran itu untuk menjadi pedoman hidup. Kalau nggak ngerti artinya, gimana bisa diamalkan sebagai pedoman?
Ramadhan barusan saya tidak membaca Al-Quran dalam bahasa Arab sama sekali. Saya tetap tadarus, tapi hanya membaca terjemahannya saja. Seperti membaca sebuah syair. Dari situ, pemahaman saya akan firman-firman Allah semakin meningkat. Meskipun belum khatam membaca semua isi Al-Quran, saya jadi tahu bahwa sebenarnya Al-Quran menyuruh "begini", bukan "begitu" seperti yang ada di masyarakat.
Di Iran, ada pameran Al-Quran besar dan modern yang diadakan di sebuah masjid di sana (saya lupa tempatnya, yang jelas diulas di Jawa Pos pada Ramadhan lalu). Di sana dipamerkan karya-karya ilmiah yang merupakan perwujudan dari isi Al-Quran. Karya dalam ilmu eksak, seni, dsb. Mereka menkonkretkan apa yang sebetulnya ada di dalam Al-Quran. Di Iran Al-Quran sangat dihormati. Para pedagang di pasar menempel nukilan ayatnya di toko-toko. Anak-anak kecil usia SD di Iran dan Afghanistan bahkan sudah mampu menghafal isi Al-Quran di luar kepala. Bayangkan, rangkaian bahasa yang tinggi mampu dihafal oleh bocah sekecil itu, secerdas apa mereka nanti saat dewasa?
Di Mesir, Al-Quran juga sangat dihormati. Di bis dan di tempat2 umum orang2 menunggu sambil membaca Al-Quran. Al-Quran poket seperti sudah menjadi barang yang biasa dimiliki umat Islam Mesir dan dibawa ke mana-mana. Itu karena mereka paham betul akan tata bahasa Al-Quran yang sangat tinggi dan kandungannya yang sangat mendalam.
Orang-orang yang paham benar keseluruhan isi Al-Quran, akan bersikap bijak seperti Pak Quraish Shihab atau Aa' Gym. Tutur katanya lembut, jalan pikirannya membuat terang benderang, selalu berusaha membersihkan hati. Orang-orang yang paham betul isi Al-Quran, akan berfikir logis dan cerdas seperti Pak Agus Mustofa. Beragama dengan akal sehat, membuat iman semakin meningkat. Orang-orang yang paham betul isi Al-Quran, akan berusaha menggerakkan masyarakat seperti pak Ahmad Dahlan. Orang-orang yang paham betul isi Al-Quran, akan menciptakan sebuah karya seni yang indah dan menyentuh hati seperti Maher Zain dan Sami Yusuf. Orang-orang yang paham betul isi Al-Quran, hidupnya damai dan tenang, bahagia dunia akhirat.
Saya ingin sekali menjadi seperti itu.
Saya ingin sekali menjadi muslim yang sesungguhnya. Saya ingin tunjukkan pada orang-orang, inilah Islam. Lihatlah yang ini. Jangan melihat bom, teror, dan kekerasan. Kalian tidak pernah benar-benar tahu siapa sesungguhnya yang ada di belakang mereka. Lihatlah umat Islam yang ini, yang cerdas, makmur sejahtera, peduli sesama, dan menebarkan kasih kepada lingkungan sekitarnya.
Pelajari dan pahami Al-Quran, itu adalah kunci untuk menemukan Tuhan dan mendapatkan kebahagiaan dunia-akhirat.
Kamis, Agustus 26, 2010
Renungan Ramadhan (4): Tuhan dan Rasa Aman

Manusia adalah makhluk yang penuh ketergantungan. Saat bayi kita tergantung pada orangtua, saat remaja kita tergantung pada teman-teman, saat dewasa kita mungkin tergantung pada pasangan hidup atau rekan kerja. Ada pula yang tergantung pada hartanya, kekuasaannya, atau bahkan ketenarannya.
Ibarat tali, kalau ‘tempat bergantung’ itu hilang, maka kita pun akan terburai, terjatuh tidak karuan. Kita hancur dan kehilangan pegangan. Kita seperti orang linglung, segala yang kita punya seperti tidak berarti lagi; harapan hilang, semangat hidup pun tak tersisa.
Sering kan kita menemui orang-orang seperti itu. Jadi gila karena terbelit utang, bunuh diri karena diputus kekasih; mereka semua itu adalah orang-orang yang stress karena kehilangan tempat bergantung.
Kita tentunya nggak mau mengalami nasib seperti itu. Karenanya, kita harus memiliki tempat bergantung yang kuat. Dia yang tidak akan meninggalkan kita, Dia yang selalu ada saat kita butuh, Dia yang paling tahu apa isi hati kita.
Dialah Tuhan, tempat bergantung yang paling kuat.
Dengan bergantung padaNya, tali kita tidak akan putus. Meskipun kita sendirian dan ditinggalkan, Tuhan tidak akan meninggalkan kita, selama kita terus mendekat padaNya.
“Allah adalah tempat bergantung.” (Al-Ikhlas ayat 2)
Jadi jangan pernah terlalu sedih dan cemas. Orang-orang yang beriman akan selalu mendapat rasa aman, karena mereka menggantungkan talinya pada Sesuatu yang amat kuat dan tak akan pernah lepas.
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am ayat 82)
Sabtu, Agustus 21, 2010
Renungan Ramadhan
Sekarang saya tahu bahwa hidayah itu bukan didapatkan, tetapi dicari. Kalau kita mau dan serius mencariNya, maka Allah akan menunjukkan jalanNya. Seumur hidup, belum pernah saya rasakan dorongan sekuat ini untuk mencari keberadaan Tuhan. Dorongan itu semakin menguat selama 2 tahun terakhir, ketika saya hidup di lingkungan plural yang menggelitik iman dan pikiran ke-Tuhan-an saya.
Tuhan dan agama itu bukannya dicari kalau sudah mendekati mati. Tuhan adalah pegangan, agama adalah tuntunan. Keduanya diperlukan selama kita menjalani hidup. Karena itu semakin awal kita menemukannya, maka semakin baik karena hidup kita akan berjalan dengan lurus dan terarah.
Hidup dalam kebimbangan dan keraguan itu nggak enak, percaya deh. Barangkali kamu sudah mencapai beberapa mimpi-mimpi duniawimu, dan kamu senang, tapi belum bahagia—ya, kamu happy, tapi belum joyful. Seperti ada sesuatu yang kosong di dalam jiwamu. Kamu berhasil, tapi untuk apa? Kamu meraih mimpimu, tapi apa manfaatnya?
Bulan Ramadhan ini, Allah membuka mata hati saya. Saya yang sudah bosan mendengar isu-isu yang begini, begitu, si A bilang begini, si B bilang begitu, di TV begini, di koran begitu, di pelajaran CBDC begini, di ceramah begitu, dll. Pusing. Di antara sekian banyak pendapat, mana yang benar? Mana yang bisa kamu percaya dan dijadikan tuntunan?
Saya berusaha mencarinya, karena itu saya putuskan kembali ke fitrah, mencoba membuka kembali apa yang seharusnya menjadi pegangan hidup saya: Al-Quran.
Meskipun sudah lancar membaca dan menghafal beberapa ayat Al-Quran di luar kepala, tetapi saya belum benar-benar memahami isinya. Itulah, orang Indonesia yang notabene pendidikannya rendah, masih menganggap agama sebagai syariat belaka, tanpa diimbangi aqidah/keimanan yang kuat. Padahal dasar yang harus dikuatkan terlebih dahulu adalah iman kita, bukan? Beriman dulu, kemudian beramal shaleh. Aqidah harus mantap dulu, baru setelah itu bisa menjalankan syariat dengan penuh keikhlasan. Insyaallah kalau tauhid kita sudah benar, apapun perintah Allah akan selalu kita usahakan dengan baik.
Alhamdulillah Allah mengerti keinginan saya untuk lebih dekat kepadaNya. Dia berikan kepada saya teman-teman yang luas ilmunya, berpikiran kritis dan terbuka. Allah berikan saya keluarga yang senantiasa mendekatkan saya ke jalan yang lurus, yang tak pernah lupa mengingatkan saya untuk selalu on track di jalanNya. Allah masih baik sama saya, nggak membiarkan saya tersesat lebih dan lebih jauh lagi.
Ayo teman-teman bersama-sama kita mencari Tuhan. Renungan Ramadhan ini insyaallah akan saya tulis terus selama bulan Ramadhan dengan berbagai topik berbeda, khususnya mengenai ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran.
Semoga kita semua tetap berada di jalan yang lurus. Amin.
Senin, Desember 08, 2008
Kisah Seekor Sapi
Wah skarang sudah hampir jam 8 pagi. Adik2ku para kambing ceria, yang smalam menghiburku dengan ‘mbaakkk mbeeekkk’ orkestra, sudah jauh meninggalkan dunia fana. Lihat itu, tinggal daging2nya saja yang sekarang sudah ‘dibeteti’, ditimbang, dan dibungkus kresek rapi. Temanku Si Sapi Belang baru saja menghilang. Kulihat dari sini tinggal kepalanya saja sekarang. Hufff…dan dua pria itu sedang menuju kemari… Bismillahirrahmanirrahim…giliranku sudah tiba!!!
Aku Si Sapi Putih, kuat dan gagah. Aku lahir dari Allah, matipun kembali padaNya. Aku sapi yang beruntung. Bermiliar-miliar sapi (masa sih?) lahir di seluruh dunia. Tidak semuanya berakhir manis sepertiku. Beberapa mati kelelahan membajak sawah. Beberapa dicambuki di arena karapan Madura. Sisanya merumput liar di padang dikejar2 singa (opo iyo? hehehe).
Takdir manis sedang menjemputku. Karena itu, ketika dua pria itu menggiringku menuju ‘arena eksekusi’, aku tenang dalam langkahku. Sudah ada yang menungguku di sana. Pria-pria penjagal, orang2 yang berkerumun hendak menonton, dan…heyyy siapa itu. Ada gadis manis bercelana pink memandangku. Sambil memeluk adiknya dia tak henti mengamati diriku. Aihhh…jangan2 dia yang akan menulis kisahku…ihihihi (itu saiaaa—Red, huehehe^^)
Pria2 ini profesional. Mereka mulai memasang simpul2 di bagian strategis tubuhku. Di sekitar tandukku. Di perut bagian belakangku. Di kaki belakang dan depanku. Semuanya disatukan lalu….hap, aku dibaringkan. Aku tidak meronta. Tidak pula berontak. Lagipula buat apa? Aku ini mau masuk surga. Kenapa harus menolak?
Tidak seperti sapi2 lain, aku tahu mau ke mana jalanku. Setiap tiba ‘musim potong’ begini, teman2ku banyak yang histeris. Lari. Kabur. Ucul. Waktu pisau jagal tinggal sejengkal…ehhh talinya malah putusss talll…sapi lari tunggang langgang. Tapi aku tidak seperti itu. Sejak lahir aku tahu mau dibawa ke mana hidupku. Aku bersyukur dilahirkan di tengah keluarga sapi yang baik…di tangan para gembala jujur…memberiku makan dari rumput segar yang halal…dan memperkenalkanku pada nuansa Tuhan…
Semasa muda, setahun sekali ku melihat saudara2ku yang lebih tua digiring ke pasar hewan. Di sana mereka akan ditawar. Dibeli oleh blantik sapi atau langsung oleh sang dermawan. Aku bertanya…ada apa? Mau dibawa ke mana mereka?
“Ke surga…” seseorang menjawab. Hari itu, 10 Dzulhijjah setiap tahunnya, para dermawan menyisihkan harta mereka. Membeli kami, menyembelih dan membagi-bagikannya pada kaum papa. Yang hanya setahun sekali bisa makan daging sapi dan domba.
Tuhan…betapa beruntungnya mereka. Kalau dagingku ini juga bisa mengenyangkan perut yang keroncongan, sungguh bahagia bila hidupku berakhir di sana.
Sejak itulah, aku bercita-cita jadi hewan kurban. Hingga suatu malam, mimpiku pun menjadi kenyataan. Dan di sinilah aku sekarang, Teman. Di depan sebuah musholla kecil di suatu perumahan. Kaki-kakiku sudah diikat, badanku sudah dibaringkan. Sungguhpun itu semua tak perlu, karena aku rela mati dikurbankan.
Seorang pria memegangi erat leherku. Menarik kulit yang menggelambir dan mengencangkannya hingga leherku telanjang. Lalu dihalanginya leherku dengan daun pisang. Pria lain memegang kepalaku. Pria satunya siap dengan pisau di tangan. Membaca doa sambil memegang secarik kertas…menyebut nama hamba2 yang telah berkurban.
Takbir masih terus dikumandangkan. Seorang bapak memegang wireless mic di depanku sambil berseru lantang. “Allahuakbar…allahuakbar…allahuakbar… Laa ilaha illallah…Huwallahu akbar…Allahuakbar wa lillaahil hamdu.”
Tuhan…inilah jalan yang sudah kupilih…aku akan kembali ke surgaMu…
Pria pemegang pisau selesai berdoa. Mata pisaunya sekarang sudah menyentuh kulit leherku. “Bismillahirrahmanirrahim…” desisnya. Dan mata pisau itu pun mengiris kulit putihku, menembus daging dan tulangku, hingga akhirnya mengoyak pembuluh aorta-ku. Aku sadar…bahkan matakupun terbuka…tapi aku tidak meronta. Aku bahkan tidak tahu apakah aku merasa sakit atau tidak. Untuk terakhir kalinya, aku hanya melihat bayangan orang2 di sekitarku yang tampak ngeri melihatku. Dan gadis bercelana pink itu… Dia mengamati darah segar yang memancar dari nadiku…Dalam hatinya dia bertanya2, mengapa darahku tidak muncrat ke mana2, seperti yang biasa dia lihat di sapi2 sebelumnya. Darahku hanya mengenai daun pisang ini, dan membasahi kulit kepalaku, tapi tidak begitu deras sampai mengenai orang2 di sekitarku…Ah andai aku bisa mengatakannya padamu…aku mati dengan sukarela…ikhlas menuju surgaNya…jiwaku damai, darahku mengalir dengan tenang… Membasahi bumi dengan anugerah tulusnya pengorbanan…
Setelahnya aku tidak ingat apa2. Sakaratul maut bagiku tidak menyakitkan. Karena itu adalah jalan bagiku kembali kepada Tuhan. Ketika kembali tersadar…tiba2 aku sudah melayang di atas sini. Melihat jasadku yang kini dikuliti. Isi perutku semua dikeluarkan. Dagingku dipotong dan dibagi-bagikan. Hai para kaum papa di bawah sana…berterima kasihlah pada para dermawan…dan nikmatilah dagingku ini dalam rahmat Tuhan…
Aku pun tersenyum dengan air mata. Malaikat maut memapahku tanpa hisab, langsung menuju surga…
(Catatan Hari Raya Idul Adha 1429 H. Melihat sapi yang begitu tenang saat mau dikorbankan…I wonder what he/she really feels…)
