Sabtu, Agustus 21, 2010

Renungan Ramadhan (1): Undangan Tuhan

Mendengarkan ceramah Pak Quraish Shihab sungguh menyejukkan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada bulan Ramadhan beliau hadir di Metro TV dalam program "Tafsir Al-Misbah", menemani sahur pemirsa mulai pukul 03.00 sampai 04.00.

Ayah saya sangat suka mendengarkan ceramah beliau, sehingga kami sekeluarga pun saat sahur memilih untuk menonton tayangan tersebut, daripada tayangan lain yang kebanyakan berbau komedi gak jelas. Pak Quraish menafsirkan Al-Quran seolah-olah ia adalah buku dongeng, dengan beratus ceritera penuh makna yang ingin disampaikan bagi siapapun yang mau mendengar. Beliau banyak menggunakan analogi sederhana dalam menjelaskan konsep ke-Tuhan-an, membuat kita yang orang awam lebih mudah untuk memahaminya.

Pagi tadi beliau membahas surat Al-An'am ayat 60-64. Ada audiens yang bertanya tentang shalat yang khusyuk. Apakah khusyuk dalam shalat itu berarti tidak memikirkan apa-apa sama sekali?

Menurut beliau, khusyuk itu banyak tingkatannya. Kita sebagai manusia perlu tahapan-tahapan untuk mencapai puncak kekhusyukan itu. Beliau menganalogikan, Allah yang mengajak kita untuk sholat seperti seseorang yang mengirimkan undangan pameran lukisan kepada kita.

Ada orang yang begitu melihat undangannya saja langsung membuangnya begitu saja tanpa dibuka. Ada orang yang membukanya tapi dia tidak suka lukisan dan dia datang ke pameran dengan menggerutu. Ada orang yang membukanya, dia tidak terlalu suka lukisan, namun karena menghormati si pengundang dia pun datang ke pameran dan melihat-lihat lukisan itu. Ada pula orang yang begitu mendapat undangan, dia senang karena dia suka lukisan, dan datang ke pameran melihat-lihat lukisan dengan atusias. Yang terakhir, ada orang yang sangat menyukai lukisan, begitu mendapat undangan, dia segera pergi dan melihat-lihat pameran, mengamat-amati lukisan dengan sungguh-sungguh, sampai ia tercenung dan hampir tidak ingat sekelilingnya.

Itulah lima tingkatan khusyuk dalam shalat. Termasuk yang manakah kita?

Renungan Ramadhan


Sekarang saya tahu bahwa hidayah itu bukan didapatkan, tetapi dicari. Kalau kita mau dan serius mencariNya, maka Allah akan menunjukkan jalanNya. Seumur hidup, belum pernah saya rasakan dorongan sekuat ini untuk mencari keberadaan Tuhan. Dorongan itu semakin menguat selama 2 tahun terakhir, ketika saya hidup di lingkungan plural yang menggelitik iman dan pikiran ke-Tuhan-an saya.

Tuhan dan agama itu bukannya dicari kalau sudah mendekati mati. Tuhan adalah pegangan, agama adalah tuntunan. Keduanya diperlukan selama kita menjalani hidup. Karena itu semakin awal kita menemukannya, maka semakin baik karena hidup kita akan berjalan dengan lurus dan terarah.

Hidup dalam kebimbangan dan keraguan itu nggak enak, percaya deh. Barangkali kamu sudah mencapai beberapa mimpi-mimpi duniawimu, dan kamu senang, tapi belum bahagia—ya, kamu happy, tapi belum joyful. Seperti ada sesuatu yang kosong di dalam jiwamu. Kamu berhasil, tapi untuk apa? Kamu meraih mimpimu, tapi apa manfaatnya?

Bulan Ramadhan ini, Allah membuka mata hati saya. Saya yang sudah bosan mendengar isu-isu yang begini, begitu, si A bilang begini, si B bilang begitu, di TV begini, di koran begitu, di pelajaran CBDC begini, di ceramah begitu, dll. Pusing. Di antara sekian banyak pendapat, mana yang benar? Mana yang bisa kamu percaya dan dijadikan tuntunan?

Saya berusaha mencarinya, karena itu saya putuskan kembali ke fitrah, mencoba membuka kembali apa yang seharusnya menjadi pegangan hidup saya: Al-Quran.

Meskipun sudah lancar membaca dan menghafal beberapa ayat Al-Quran di luar kepala, tetapi saya belum benar-benar memahami isinya. Itulah, orang Indonesia yang notabene pendidikannya rendah, masih menganggap agama sebagai syariat belaka, tanpa diimbangi aqidah/keimanan yang kuat. Padahal dasar yang harus dikuatkan terlebih dahulu adalah iman kita, bukan? Beriman dulu, kemudian beramal shaleh. Aqidah harus mantap dulu, baru setelah itu bisa menjalankan syariat dengan penuh keikhlasan. Insyaallah kalau tauhid kita sudah benar, apapun perintah Allah akan selalu kita usahakan dengan baik.

Alhamdulillah Allah mengerti keinginan saya untuk lebih dekat kepadaNya. Dia berikan kepada saya teman-teman yang luas ilmunya, berpikiran kritis dan terbuka. Allah berikan saya keluarga yang senantiasa mendekatkan saya ke jalan yang lurus, yang tak pernah lupa mengingatkan saya untuk selalu on track di jalanNya. Allah masih baik sama saya, nggak membiarkan saya tersesat lebih dan lebih jauh lagi.

Ayo teman-teman bersama-sama kita mencari Tuhan. Renungan Ramadhan ini insyaallah akan saya tulis terus selama bulan Ramadhan dengan berbagai topik berbeda, khususnya mengenai ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran.

Semoga kita semua tetap berada di jalan yang lurus. Amin.

Sabtu, Juli 31, 2010

SUARA RAKYAT DI ATAP GEDUNG DPR

“Bicara sudah nggak didengerin, menulis di koran juga sama. Sentilan di televisi, seperti Butet atau acara Democrazy, cuma jadi entertain. Makanya, saya demo saja supaya didengarkan,” begitu kata Pong Hardjatmo, aktor kawakan yang kemarin tiba2 melakukan aksi heboh. Dia memanjat gedung DPR dan mencoreti atapnya dengan cat semprot. Kata2 yang ditulisnya simpel tapi cukup menyentil, yaitu “JUJUR ADIL TEGAS”. Seolah-olah menyindir tajam sikap anggota DPR saat ini yang kerap kali menunjukkan perilaku sebaliknya.

Jujur saya akui, ulah aktor senior itu SANGAT KEREN. Dia bukan siapa2; bukan aktivis, bukan politisi, bukan komentator yang sering ceramah di televisi—dia hanya aktor film. Profesinya nggak berkaitan secara langsung dengan ribut-koyah di DPR. Tapi suaranya itu, spontanitasnya itu, murni dari seorang rakyat yang capek disuguhi aksi konyol para badut Senayan yang menyakitkan hati.

Reaksi Ketua DPR Marzuki Alie seolah membuktikan sikap negatif anggota DPR yang dipimpinnya. Dengan spontan ia langsung menunjuk kambing hitam. “Kalau sampai ada yang mencoret gedung begitu, pamdal yang salah. Pengamanannya bagaimana?” Kenapa setiap ada kejadian komentar pertama langsung mencari siapa yang SALAH? Kenapa tindakan pertama selalu mencari KAMBING HITAM? Apa dia nggak peka sama pesan yang coba disampaikan Pong, kata-kata yang sangat diidamkannya—dan juga seluruh rakyat Indonesia—sampai2 rela memanjat atap gedung DPR untuk menuliskannya? Dengan entengnya si Ketua Taman Kanak-Kanak Senayan malah bilang, “Pesan begitu sudah banyak di media.” Oh God, WHERE THE HELL IS YOUR EAR?

Pong orang cerdas. Nggak butuh popularitas. Kalau sampai dia bertindak begitu, itu berarti memang anggota DPR kita sudah parah busuknya. Bolos sidang, makan gaji buta, korupsi gila-gilaan. Bener juga apa kata Om Wahyu Kokkang di kartun Clekit-nya, “Kalau anggota dewan tetap nggak berubah kelakuannya, lain kali corat-coretnya langsung di jidat mereka saja!”

*sumber kutipan: Jawa Pos (Sabtu/31 Juli 2010)

*sumber gambar: mediaindonesia.com

Kamis, Juli 08, 2010

Ainun Habibie dan Peran Perempuan

“Yang paling saya ingat dari Ibu adalah matanya…” kata Habibie dengan pandangan menerawang di balik kacamatanya. “Matanya, senyumnya, dan ekspresi wajahnya itu tidak bisa saya lupakan…”

Di depan Habibie, Najwa Shihab menitikkan air mata mendengar rasa cinta yang begitu dalam dipancarkan oleh cendekiawan Indonesia ini. Terlihat sekali bahwa Habibie sangat merasa kehilangan sosok perempuan yang sangat dicintainya, yang setia menemaninya selama 48 tahun lebih 10 hari.

Itulah cuplikan wawancara program “Mata Najwa” episode “Separuh Jiwaku Pergi.” Mendengar kisah cinta Pak Habibie dan Bu Ainun, tak terasa airmata ini mengalir. Cukup deras, merasakan dahsyatnya kekuatan cinta yang mampu menciptakan kerapuhan saat cinta itu pergi, menyisakan sebuah lubang kosong menganga dalam sesosok laki-laki hebat nan cemerlang.

“Di balik setiap laki-laki sukses, pasti ada seorang wanita hebat.” Ungkapan itu terpancar jelas pada sosok Pak Habibie. Kariernya sebagai seorang ilmuwan besar Indonesia ternyata tidak lepas dari peran istri tercintanya, Ibu Ainun. Ibu Ainun selalu memasang wajah teduh dan senyum manis, mengingatkan Pak Habibie untuk beristirahat dan minum obat, membekali Pak Habibie dengan carikan kertas berisi ayat-ayat Al-Quran dalam perjalanan. Ibu Ainun mendisiplinkan Pak Habibie, menjadi bantalannya ketika ia akan terjatuh, memperkuat jiwanya saat ia rapuh. Tak heran Pak Habibie merasa separuh jiwanya pergi saat istrinya meninggal dunia, namun dengan tabah ia berkata, “Aku sangat mencintaimu Ainun, tapi Allah lebih mencintaimu, sehingga Ia memanggilmu lebih dulu...”

Ia berkata kepada Najwa, “Saat ini jiwa saya dan Ibu sudah menyatu, Ibu seperti ada dalam ruh saya.”

Subhanallah, sungguh luar biasa cinta yang ditanamkan Allah dalam hati Pak Habibie.

Mendadak rasa kekaguman yang luar biasa muncul kepada Ibu Ainun. Ibu Ainun, yang seorang dokter lulusan FK Universitas Indonesia, rela mengesampingkan gelarnya dan mengabdikan diri sebagai seorang istri dan seorang ibu. Ibu Ainun adalah wanita cerdas. Ketika SMA, beliau yang merupakan adik kelas Pak Habibie dikenal sebagai jagoan ilmu pasti. Beliau seorang dokter lulusan universitas ternama. Kalau saja dia mau, dia bisa meniti karier yang hebat, bahkan bisa seperti Ibu Sri Mulyani yang kini menjabat di World Bank. Namun Ibu Ainun memilih menjadi seorang istri dari jenius bernama Habibie, mengabdikan hidupnya untuk merawat suami dan anak-anaknya.

Seorang teman pernah berkata, di dunia ada 2 jenis orang, yaitu orang sukses dan orang yang mendukung si orang sukses. Ada 2 tipe manusia, si pencapai dan si ‘asisten pencapai’. Orang sukses memang hebat karena bisa mencapai kesuksesannya, namun semua itu takkan bisa berhasil tanpa dukungan dari pendampingnya. Tanpa si ‘asisten’ itu, orang sukses pun tidak akan menjadi sukses seperti seharusnya. Demikian pula, si ‘asisten’ sendiri tidak bisa menjadi orang sukses namun perannya sangat besar dalam menciptakan ‘si sukses’.

Mungkin inilah hakikat pasangan hidup. Pasangan yang sama2 ambisius mungkin akan saling bersaing dan menjatuhkan. Namun pasangan seorang ‘sukses’ dan seorang ‘asisten sukses’ akan saling melengkapi menciptakan kesuksesan bersama.

Peran ‘asisten sukses’ ini biasanya dijalani oleh seorang perempuan, sebagai seorang istri dan juga ibu. Ibu Ainun Habibie telah menjalankannya dengan sangat istimewa, sebagaimana dilakukan oleh Ibu Tien Soeharto dan Ibu Ani Yudhoyono, serta para istri orang2 sukses lainnya. Saya percaya bahwa orang2 sukses selalu memiliki istri yang hebat dan keluarga yang bahagia. Karena istri dan ibu yang menjalankan perannya dengan baik adalah kunci dari keharmonisan keluarga. Keluarga harmonis adalah awal dari kesuksesan seseorang.

Para istri dan ibu itu bukan berarti kalah sukses dengan suami atau anaknya, tetapi merekalah yang menjadi tumpuan kesuksesan itu—merekalah yang menciptakannya melalui orang lain.

Barangkali para perempuan feminis masa kini akan menganggap bahwa perempuan juga bisa sukses sendiri, tanpa melalui orang lain. Pendapat ini memang ada benarnya. Kita melihat Sri Mulyani atau Angela Merkel, dan sederet perempuan sukses lainnya. dalam tingkatan ini, bisa jadi pemegang peran ‘asisten sukses’ tersebut bukanlah sang perempuan, melainkan sang laki-laki. Sebab Sri Mulyani sendiri pernah mengatakan, suami dan anak2nya adalah orang2 yang sangat berharga dan selalu mendukungnya.

Terlepas dari itu semua, perempuan bisa menjalankan peran manapun yang dia inginkan; sebagai ‘orang sukses’ atau sebagai ‘asisten sukses’. Itu semua adalah pilihan. Tidak ada peran yang lebih rendah dari yang lain. Di sini faktor kepribadian juga menentukan peran yang diambil.

Saya pribadi, dalam usia saat ini tentunya ingin menjadi ‘orang sukses’. But someday, when I’ve found “that someone”, somebody who can take my trust fully, somebody who can be counted on, somebody who can guide me to the path of Allah, I’m sure I will gladly become his companion. I will become his motivator, support him to be a success man, and be by his side forever... I wanna become like Bu Ainun. This is when I fulfill my dream as a complete woman…

Selasa, Juni 01, 2010

cin(T)a dan Sunny Soon

Masih terngiang-ngiang di kepala rasanya senyum manis Sunny Soon. He is undeniably charming. I was falling in love with him along the movie. If I were Annisa, it will need a very hard struggle for me to reject his strong aura =P

After about 10 months waiting, finally I can watch “cin(T)a the Movie”. For some reasons I’m a bit surprised. Because it isn’t about God, religion, race, or any interfaith matters that remains deeply in my mind. It’s about LOVE. This is absolutely the MOST ROMANTIC movie I’ve ever watched.

I am very touched by the way they love each other. Smart dialogues. Simple but touching. Their characteristics completed each other. The tough man and the tender woman. I love the way of Cina staring at Annisa when she was taking the wudhu’. I love the way they are debating without embittering. I love the sense caught of how Cina is strongly trying to erase his feeling to Annisa, but still it’s very difficult for him ‘till he almost sacrifice his faith.

I really love the way Sunny Soon act as Cina.

*I think I’m fallin’ love again* =P

Senin, April 05, 2010

Belajar dari Ketidaknyamanan

Baru saja hari itu berakhir. Kemarin, 4 April 2010 selesai sudah rangkaian acara MaC-Maple, lomba Matematika, Fisika, Kimia, dan Logika untuk pelajar SMP dan SMA se-Jawa Timur yang diadakan di Universitas Ma Chung. Sejak Desember 2009, kami para panitia bekerja keras untuk mempersiapkan acara ini.

Terlibat dalam kepanitiaan yang sama setahun lalu membuat saya berani mencalonkan diri sebagai ketua. Meskipun, dari segi kepribadian (personality) dan pengalaman rasanya saya tidak pantas memangku jabatan itu. Saya semakin menyadarinya sekarang bahwa saya bukanlah tipe seorang pemimpin (baca: manajer).

Inkonsistensi, keraguan, ketidaktegasan, emosi yang tidak stabil, pelupa, tidak fokus, malas, dan tidak disiplin adalah kepribadian "bawaan" yang membuat saya tidak cocok menjadi seorang manajer yang bertanggung jawab atas sebuah organisasi.

Dengan kepribadian (baca: kebiasaan) seperti itu, saya juga melakukan kesalahan fatal dengan memangku jabatan ketua UKM Jurnalistik.

Untungnya dalam kepanitiaan MaC-Maple 2010 semua koordinator sie adalah orang2 yang "niat" dan berkompeten. Sehingga, meskipun dengan ketidaktegasan dan kemalasan saya acara ini masih tetap berjalan sebagaimana mestinya, bahkan meraih sukses karena diikuti oleh 452 peserta walaupun diadakan saat Paskah.

Pada awal2 kepanitiaan ini saya malah disuruh mendobel kepanitiaan lain yaitu LKTD 2010. Dalam kepanitiaan LKTD ini saya juga mendapat banyak pelajaran karena kesalahan saya. Untungnya saya tidak sampai mengulanginya di MaC-Maple. Namun tetap saja saya merasa belum berusaha maksimal.

Saya merasa masih sangat harus banyak belajar menjadi pemimpin. Seorang dosen pernah berkata bahwa menjadi pemimpin tidaklah nyaman. Ya, menjadi pemimpin memang tidak nyaman. Berbicara di depan orang banyak memang tidak nyaman. Menegur bawahan yang notabene adalah teman sendiri juga tidak nyaman. Mengambil keputusan yang keliru juga tidak nyaman. Tidak mengambil keputusan juga tidak nyaman. Disepelekan dan dilangkahi juga tidak nyaman. Dicaci maki juga tidak nyaman. Berdebat dengan anggota juga tidak nyaman. Ketika memutuskan menjadi seorang pemimpin, maka kamu harus bersiap menghadapi perasaan2 tidak nyaman selama tanggung jawabmu belum selesai. Meskipun sebenarnya toh kamu tidak melakukan apa-apa.

Ditambah pikiran saya yang selalu negatif dan berprasangka buruk, membuat sering kali emosi menjadi tidak stabil dan membuat saya seperti "orang gila".

Ada hal-hal yang ketika kamu mengerjakannya sendiri hasilnya akan lebih baik. Namun kamu harus membaginya kepada orang lain dan mereka tidak ingin mengerjakannya seperti keinginanmu. Kamu harus belajar berkompromi, mengenal dirimu sendiri dan orang lain.

Saya berkesimpulan, saya tidak akan menjadi pemimpin lagi. Belum saatnya saya menjadi pemimpin. Saya ingin introspeksi diri dulu hingga sedalam-dalamnya. Banyak membaca, menulis, dan mengamati. Menentukan tujuan hidup sendiri. Saya ingin berusaha memimpin diri sendiri dulu sebelum memimpin orang lain.

Saya tidak akan memimpin lagi sebelum benar-benar siap menjadi pemimpin yang sesungguhnya.

Menempuh hidup menjadi seorang penulis, pengamat, dan petualang yang tidak terikat rasanya memang lebih mengasyikkan...

Minggu, Maret 28, 2010

Bangkit Sedikit

Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya mengutik-utik blog ini. Ingin menuangkan cerita, meyakinkan diri bahwa saya masih belum lupa cara menulis =D. Juga sedikit refleksi dan evaluasi agar bisa membopong diri sendiri melangkah ke depan.

Selama tahun ajaran ini saya tidak banyak menorehkan prestasi. Hari-hari diisi dengan bekerja dan berorganisasi (kuliah belakangan...hehe). Sekitar Agustus 2009 saya mendapat pekerjaan sebagai guru les Bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan anak di Kota Malang. Meskipun gaji yang didapat tak seberapa, cukup banyak pengalaman yang diperoleh meski hanya seminggu sekali. Namun demikian, jadwal yang semakin padat membuat saya tampaknya harus melepaskan pekerjaan ini semester depan...ditambah lagi saya sudah mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan =D

Berawal dari tawaran seorang senior, saya mencoba menjadi freelancer editor sebuah studio buku di Jakarta. Tentunya bukan berarti saya harus bolak-balik Malang-Jakarta. Naskah yang sudah saya edit tinggal dikirim via e-mail dan honor tinggal transfer via bank. Inilah pekerjaan yang saya suka. Tidak ribet, fleksibel, dan tak harus ke kantor setiap hari (meski tetap terikat dengan deadline sih...)

Honor yang saya dapatkan dari pekerjaan ini cukup lumayan. Mengedit satu buku diselesaikan dalam 2 hari, honornya 10x lipat dari bayaran mengajar bahasa Inggris selama 2 jam setiap Sabtu. Intinya, untuk mendapat honor setara mengedit selama 2 hari itu, saya harus mengajar selama 10 minggu. Tentunya jauh lebih besar. Namun memang pekerjaan ini lebih individualis dan tidak mengasah talenta berorganisasi dan bersosialisasi seperti yang saya dapatkan di tempat les.

Puas dengan hasil kerja saya, pemilik studio buku itu menawari pekerjaan yang lain. Mengedit, membuat glosarium, hingga menulis buku dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pekerjaan terbaru adalah menyusun kamus bahasa Mandarin. Untuk ukuran mahasiswa, honor yang ditawarkan lumayan tinggi (mungkin karena mereka pakai standar Jakarta). Namun bila dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan, honor itu jadi terasa rendah T.T
Kadang2 naskah yang ditawarkan tidak masuk akal dengan deadline yang sangat mepet. Misalnya mengerjakan buku bahasa Inggris 70 halaman dalam waktu 3 hari. Di awal2 saya bekerja sangat cepat (maklum masih "on fire", hehe) hingga mampu menepati "deadline gila" itu. Tapi lama2, ditambah dengan padatnya kuliah dan organisasi, pekerjaan saya mulai molor hingga sempat ditegur. Apalagi saat itu saya sedang mengalami masalah pribadi yang cukup menguras hati. Namun untungnya perlahan saya bangkit, dan masih diberi kepercayaan untuk menyelesaikan pesanan buku lagi.

Sering menulis buku pesanan, saya jadi sedikit mengerti seluk beluk dunia penerbitan. Tiba2 saya teringat akan cita2 lama saya menjadi novelis. Selama ini saya menulis buku seperti robot, hanya pakai otak saja dan sekadar menyusun bahan2 yang ada. Saya ingin menulis buku yang benar2 hasil pemikiran sendiri. Mumpung sudah ada koneksi =D

Ada banyak proyek2 fiksi yang terserak sejak SD sampai SMA. Cerita2 yang tidak terselesaikan, kumpulan cerpen yang tak pernah tamat, novel yang hanya prolognya saja. Mungkin sudah waktunya saya kembali menjadi apa yang seharusnya saya diciptakan untuk hidup.

I am born to be a writer.

Saya berniat untuk menyelesaikan semua tanggungan organisasi saya semester ini. UKM, kepanitiaan, dan les2an. Mulai semester depan saya tidak akan mengikuti organisasi apapun. Saya akan menulis dan berpetualang...dan kembali menjadi diri sendiri.