Rabu, Juli 29, 2009

This feeling

You hold my hand. Suddenly our conversation stopped. Those eyes staring at me, and then just a simple words from your mouth. “I like you.”

Those hugs, touches, whispers, breaths, kisses, strongly stayed in my mind.

I couldn’t find a longer words. I couldn’t make a longer story. My heart has stored it better than my words can do.

Wo ye xihuan ni.

Senin, Juni 01, 2009

Kerudung, Jilbab, dan Ketaatan Seorang Muslimah

Kerudung bukanlah jilbab dan jilbab berbeda dengan kerudung. Meskipun wacana ini sudah ‘basi’ di kalangan anak pesantren dan madrasah macam saya, tetapi rasanya masih perlu diluruskan untuk kalangan awam.

Jilbab BUKAN hanya penutup kepala. Jilbab—singkatnya—adalah pakaian panjang dan longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dewasa, kecuali wajah dan telapak tangan. SALAH KAPRAH sekali kalau orang2 masih menyebut selembar kain yang menutupi kepala sebagai jilbab. Itu bukan JILBAB, sodara2, tapi KERUDUNG.

Saya pribadi tidak pernah menyebut diri saya sebagai gadis berjilbab. Saya masih berkerudung. Saya masih memakai kaos, kemeja, kardigan, jins, rok, dan pakaian2 kasual lainnya. Namun untuk menunjukkan bahwa saya berniat menutup aurat, maka saya mengenakan selembar kain yang menutupi kepala. Itu saja.

Mana yang lebih taat, wanita berkerudung atau wanita berjilbab?
Well, tentu tidak bisa divonis begitu saja. Pada umumnya umat Islam cenderung menganggap wanita berjilbab jauh lebih taat dan kaffah (menyeluruh) dalam melaksanakan hukum2 Islam. Mereka umum disebut muslim radikal. Sedangkan wanita berkerudung masih punya kompromi dalam menafsirkan hukum2 Islam. Mereka umum disebut muslim moderat.

Sebetulnya penggolongan seperti ini tidak terlalu baik. Muslim ya muslim. Kenapa harus dibedakan berdasarkan jenis penutup kepala yang dipakai?

Di luar pertentangan apakah itu jilbab atau kerudung, banyak yang beranggapan bahwa ketika seorang muslimah menutup seluruh auratnya maka saat itu pula lah ia telah dianggap sebagai wanita beriman yang sholihah.

Perlu digarisbawahi bahwa: Menutup aurat TIDAK MENANDAKAN bahwa seorang muslimah sudah sepenuhnya sholihah, tetapi MEMBANTUNYA untuk menjadi lebih sholihah. Ketika seorang wanita memakai jilbab atau kerudung, maka mau tidak mau ia membawa sebuah stigma di kepalanya: Anda orang saleh dan Anda tidak boleh berbuat macam2. Pakaian Anda mengendalikan hawa nafsu Anda. Pakaian Anda menjaga tingkah laku Anda. Ketika Anda melakukan sesuatu yang tidak baik dengan memakai pakaian tersebut, maka seluruh simbol dan stigma yang melekat padanya akan tercoreng habis-habisan.

Jika Anda memakai penutup kepala, maka tentu Anda akan berpikir dua kali sebelum pesta miras di diskotek, “Pantaskah saya melakukannya? “
Anda akan menimbang-nimbang sebelum berkencan di kamar hotel bersama kekasih Anda, “Tidak malukah saya melakukannya? Malu terhadap pakaian yang saya kenakan? Malu terhadap Tuhan yang memberi pakaian ini untuk menjaga kehormatan?”

Itulah makna sebenarnya yang terkandung dalam penutup aurat. Bukan sebagai alat politik. Bukan sebagai alat untuk menarik simpatisan kampanye. Bukan sebagai alat untuk membentuk topeng religiusitas.

Jadi mulailah berpikir ulang tentang kerudung, jilbab, dan ketaatan seorang muslimah.

Kamis, Mei 28, 2009

Bunga dan Rumput Liar

Tidak ada yang meragukan keindahan bunga di taman. Entah itu anggrek, mawar, krissan, lily…bunga2 itu selalu cantik, segar, dan memancarkan aroma harum. Namun musim berganti. Beberapa bunga akan layu dan mati. Tidak akan ada kuncup yang mekar, tidak ada aroma wangi yang memancar. Bunga-bunga tidak tahan hidup pada musim dingin. Kelopak mereka terlalu halus untuk tersengat hawa beku. Tangkai mereka terlalu rapuh untuk diterjang badai salju.

Ketika tukang kebun lalai menyiram, bunga-bunga panik. Akar mereka begitu pendek dan halus, sulit menjangkau air yang terlalu dalam. Mereka kehausan, mereka selalu butuh diberi minum. Ketika ulat-ulat datang, mereka kebingungan. Daun-daun mereka yang hijau mulus berlubang digerogoti. Tanpa tukang kebun yang menyemprot anti-hama, mereka sangat menderita.

Bunga-bunga yang indah selalu punya lingkungan mereka sendiri. Di dataran tinggi, dataran rendah, atau pegunungan. Mereka hidup di suhu tertentu, kelembapan tertentu, jenis tanah tertentu. Sedikit saja ada yang berubah, mereka tidak bisa menyesuaikan diri. Mereka akan layu dan mati.

Namun rumput liar berbeda. Mereka bisa hidup di mana saja dan kapan saja. Gunung, dataran, pantai. Winter, summer, spring. Musim hujan atau musim kering. Rumput liar selalu ada! Tumbuh dan terus tumbuh. Tak pernah mati biarpun diinjak berulang kali. Tak pernah goyah biarpun musim berubah.

Rumput liar tak perlu disiram, dipupuk, dan disemprot anti-hama. Mereka punya akar yang sangat panjang dan kuat. Cukup panjang untuk menusuk air di dasar tanah. Cukup kuat untuk mempertahankan diri ketika kau mencabutnya.

Rumput liar tidak pernah dimuliakan, disanjung, diberi pot kehormatan. Namun dia terus hidup. Dia hidup karena dirinya sendiri. Betapapun kau memandangnya tidak berharga, dia tidak peduli. Dia tidak akan mati.

Dan aku pun akan menjadi rumput liar yang tangguh, tak peduli betapa sering kau menginjakku.

*Tulisan ini terinspirasi Yamazaki Tanpopo (Imadoki)*

Minggu, Mei 03, 2009

Newest news...

Banyak hal yang terjadi dan saya sudah lama tidak menulis. Lima hari lagi untuk pertamakalinya saya akan pergi ke luar negeri, tepatnya ke Jerman selama 13 hari. Tapi sebelum itu banyak yang terjadi.

Semester 2 ini berlalu bagai shinkansen di rel kehidupan saya. Segalanya berlangsung begitu cepat dan tiba2. Patut disyukuri bahwa saya ketiban banyak prestasi pada semester ini. Itu juga yang mungkin menjadikan hari2 saya berlalu begitu cepat. Awal semester, bulan Februari tepatnya, tahu2 ada pengumuman bahwa PKMM kelompok saya dan ketiga teman saya lolos didanai Dikti. Jadi selama 4 bulan kami harus melakukan program abdimas tersebut.

Awal Maret, mendadak dapat email bahwa saya diundang ikut student conference ISWI 2009 di Jerman. Setelah itu marathon aktivitas seolah tak berhenti menghadang…

Waktu saya habis untuk keperluan cari sponsor keberangkatan. Mulai bikin proposal, konsultasi, ngurus surat, ketemu sponsor, dll. Di samping itu masih harus jalan PKMM. Dan tugas kuliah yang seabreg. Sisa2 tugas kepanitiaan yang belum terselesaikan. Belum lagi kegiatan insidental yang butuh persiapan mendadak…

Di sela2 waktu itu saya—entah kenapa—masih sempat daftar ikut lomba. Saya gak tahu apa yang ada di pikiran saya waktu itu tapi ternyata ikut juga. Saya satu tim dengan dua kakak tingkat saya. Karena sama2 sibuk, kami gak pernah latihan sama sekali bahkan sampai menjelang keberangkatan…

Sama sekali gak terpikirkan bahwa untuk ikut lomba debat itu harus menginap di dekat UK Petra selama 5 hari. Kami berangkat tanggal 25 dan pulang tanggal 29. Padahal tanggal 6 saya sudah harus terbang ke Jerman. Tapi saya sudah terlanjur mendaftar dan tidak boleh mundur, meskipun saya ingin…

Di Surabaya sama sekali tidak mengenakkan. Terutama karena saat keberangkatan tiba2 saya dapat ‘monthly guest’. Rasanya gak nyaman. Di sana saya bad mood dan dimarahi teman se-tim karena bête terus kalo diajak latihan. Padahal kan saya lagi gak enak badan. Anak laki2 gak bisa mengerti. Di sana saya cewek sendirian. Saya homesick berat. Dan saya hanya tidur 3-4 jam sehari. Tapi ternyata kami lolos terus dan gak bisa langsung pulang…

Meskipun masih ‘cupu’ dalam hal lomba debat, anehnya kami berhasil meraih juara 2. Ini keajaiban. Mengingat pengalaman dan persiapan kami yang sungguh pas2an. Sayang sekali, waktu mau pengumuman pemenang tiba2 ada berita duka. Ayah salah satu teman se-tim saya meninggal. Baru sekali itu saya lihat dia menangis dan saya jadi ikut sedih. Tapi saya bingung mau bilang apa jadi saya cep2in saja.

Pulang ke Malang saya sudah ditunggu oleh rentetan tugas yang menyesakkan. Banyak yang dikumpulkan hari Senin, padahal saya take off hari Rabu. Dan saya sama sekali belum mempersiapkan materi untuk dipresentasikan di ISWI. Saya lagi2 mengalami masalah dalam manajemen waktu…huhuhu

Baiklah rasanya cukup sekian laporan kegiatan saya sehari-hari. Nanti akan saya posting yang lebih bermutu. Semangat! ^^p

deepest feeling...

Ada kalanya sulit bagimu untuk tidak menyukai orang yang terbiasa ada di dekatmu. Apalagi kalau kamu adalah orang yang tidak percaya pada pandangan pertama. Kadang-kadang kamu merasa amat respek padanya, tapi di lain waktu perasaan itu menguap begitu saja. Selalu naik dan turun. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dia menempati posisi yang spesial di hatimu. Mau tidak mau di waktu-waktu senggang pikiran itu muncul di benakmu.

Sayang sekali kamu tidak bisa terus bersikap seperti itu. Ada beberapa hal yang membuatmu harus menahan kuat-kuat perasaanmu. Ada beberapa hal yang membuatmu lebih baik menekan saja apa yang kamu rasakan. Memang cukup sulit, tapi setelah kamu pikir-pikir, memang itulah yang terbaik.

Kamu tidak habis pikir sebenarnya apa yang salah dengan dirimu. Mengapa kamu begitu sulit membuka diri dan mengapa kamu tidak mudah menceritakan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Kadang-kadang kamu berpikir apakah dirimu ini sama sekali tidak menarik? Mengapa tidak ada orang yang memberi perhatian khusus padamu?

Kadang2 kamu mengira kamu diciptakan dengan dinding transparan di sekelilingmu, yang menghalangi orang-orang untuk mendekatimu. Malangnya, dinding itu sepertinya kamu buat sendiri secara tidak sengaja. Dan itu sudah berlangsung lama sekali. Kamu tidak pernah tahu bagaimana cara menghancurkannya. Kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya sampai kamu merasa bahwa ternyata kamu selalu sendirian. Tapi sudah terlambat. Dinding itu sudah tumbuh terlalu kuat untuk dihancurkan. Dan kamu akan selalu melolong minta pertolongan dari balik kungkungannya.

Kamu pun bertanya mengapa kamu tidak bisa bersikap baik kepada orang yang mencoba mendekatimu? Kamu hanya bisa menerima mereka yang memang ingin kamu terima. Sayangnya meskipun sudah menunggu mereka tidak pernah datang. Dan dinding yang kamu bangun pun tumbuh semakin tinggi dan tinggi. Kamu terbenam di dalamnya tanpa bisa menggapai-gapai lagi.

Orang-orang tidak tahu bahwa kamu sangat butuh pertolongan. Kamu menginginkan mereka ada di dekatmu tapi dinding transparan itu membuat mereka takut mendekatimu. Lama-lama kamu muak. Suatu hari kamu akan menghancurkan dinding itu. Pasti. Entah bagaimana.

Jumat, Mei 01, 2009

Terbang...

Saya percaya setiap manusia punya sayap dan bisa terbang. Ada yang memiliki sayap yang kuat dan tahu betul bagaimana cara mengepakkannya hingga bisa membawa mereka terbang melampaui awan. Ada pula yang sebetulnya punya sayap yang bagus, namun tidak tahu bagaimana cara mengepakkannya. Ada pula yang begitu ingin meniru sayap-sayap orang lain agar bisa terbang setinggi mereka. Ada pula yang tidak percaya akan kekuatan sayap mereka sendiri. Bahkan ada pula yang tidak sadar bahwa mereka sebenarnya memiliki sayap.

Seperti burung, sayap-sayap manusia pun bisa patah. Tapi, tidak seperti burung, manusia punya kekuatan untuk memperbaiki sayap-sayapnya sendiri, menyembuhkannya, dan mengepakkannya kembali menuju angkasa. Manusia akan selalu bisa terbang selama mereka mau mengepakkan sayapnya sendiri...

Ada kalanya kamu tidak puas dengan sayapmu sendiri. Mungkin kamu merasa sayapmu terlalu kecil, tidak seimbang, dan terlihat rapuh. Mungkin kamu ingin memiliki sayap seperti temanmu; yang lebih besar, indah, dan kuat. Namun pernahkah kamu berpikir bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan sayapnya masing-masing? Pernahkah kamu berpikir bahwa sayapmu-lah yang paling baik untukmu? Mungkin jika kau diberi sayap sebesar itu, tubuhmu terlalu kecil untuk menanggungnya. Percayalah, Tuhan tahu pasti sayap yang paling tepat untukmu.

Jika kau merasa tidak bisa terbang, jangan keburu berpikir bahwa kau tidak punya sayap. Sayapmu selalu ada di sana, tepat di punggungmu. Kau hanya perlu memeriksanya sebentar, barangkali ada bagian dari sayapmu yang patah? Barangkali ada bulu-bulu sayapmu yang rontok? Barangkali kamu hanya perlu memperbaiki sayapmu dan setelahnya kamu bisa terbang kembali...

Jangan keburu berpikir bahwa sayapmu benar-benar patah dan tidak bisa disembuhkan. Berpikirlah bahwa betapapun patahnya sayapmu, selalu ada cara untuk memperbaikinya dan kamu akan selalu bisa terbang mencapai langit...

Terbanglah dengan mimpi-mimpimu!

Senin, April 13, 2009

A Sunday with Peng Laoshi














On Sunday morning Ken invited me along with 彭洁, our中文老师 (Chinese lecturer in Ma Chung University) to go to her family’s marriage. We arrived at Ken’s home early at 7 a.m. (Actually I was a bit late coz I almost forgot the appointment =p). Well, at that time we watch the marriage promise (akad nikah) and 彭老师 asked me few questions about that.

After ‘akad nikah’ we spent the time talking about many things in Ken’s room. 彭老师 was interested with the history of Chinese-descent people in Indonesia, the topic that Ken and I also like to discuss. We also compared about people habit in Indonesia and China, the culture, even we talked about guy. 彭洁liked suggesting people, she’s really suitable to be 老师 ^^.

After that I asked老师 to come to my home. At that time the whole family was going to Surabaya, so there was only me and my 1st sister. I told 老师 about my family, I showed her the family photo album. She asked me to keep my baby photo^^.

Then I dropped her in her home. But at 3 p.m. we went back to Ken’s home to see the ceremonial’s wedding. This is the most interesting part. Ken asked 老师 to bring the ‘Kembang Mayang’. You know that in traditional Javanese wedding ceremony, there will always be two girls in bride side and two boys in broom side to hold the Kembang Mayang. Actually it’s Ken, but she want 老师 to replace her.

So 老师 wore ‘kebaya’ and ‘jarik’—she’s so cute, really, just see it in the photo^^. She changed the Kembang Mayang with the boy in broom side. Hooo…she’s a bit nervous~~. Then she asked me what was the meaning of changing the flower, but I couldn’t clearly answer (poor Javanese me -_-“).

Take a look at the photos…^^
I also share the photos and video on Facebook.