Kamis, Mei 28, 2009

Bunga dan Rumput Liar

Tidak ada yang meragukan keindahan bunga di taman. Entah itu anggrek, mawar, krissan, lily…bunga2 itu selalu cantik, segar, dan memancarkan aroma harum. Namun musim berganti. Beberapa bunga akan layu dan mati. Tidak akan ada kuncup yang mekar, tidak ada aroma wangi yang memancar. Bunga-bunga tidak tahan hidup pada musim dingin. Kelopak mereka terlalu halus untuk tersengat hawa beku. Tangkai mereka terlalu rapuh untuk diterjang badai salju.

Ketika tukang kebun lalai menyiram, bunga-bunga panik. Akar mereka begitu pendek dan halus, sulit menjangkau air yang terlalu dalam. Mereka kehausan, mereka selalu butuh diberi minum. Ketika ulat-ulat datang, mereka kebingungan. Daun-daun mereka yang hijau mulus berlubang digerogoti. Tanpa tukang kebun yang menyemprot anti-hama, mereka sangat menderita.

Bunga-bunga yang indah selalu punya lingkungan mereka sendiri. Di dataran tinggi, dataran rendah, atau pegunungan. Mereka hidup di suhu tertentu, kelembapan tertentu, jenis tanah tertentu. Sedikit saja ada yang berubah, mereka tidak bisa menyesuaikan diri. Mereka akan layu dan mati.

Namun rumput liar berbeda. Mereka bisa hidup di mana saja dan kapan saja. Gunung, dataran, pantai. Winter, summer, spring. Musim hujan atau musim kering. Rumput liar selalu ada! Tumbuh dan terus tumbuh. Tak pernah mati biarpun diinjak berulang kali. Tak pernah goyah biarpun musim berubah.

Rumput liar tak perlu disiram, dipupuk, dan disemprot anti-hama. Mereka punya akar yang sangat panjang dan kuat. Cukup panjang untuk menusuk air di dasar tanah. Cukup kuat untuk mempertahankan diri ketika kau mencabutnya.

Rumput liar tidak pernah dimuliakan, disanjung, diberi pot kehormatan. Namun dia terus hidup. Dia hidup karena dirinya sendiri. Betapapun kau memandangnya tidak berharga, dia tidak peduli. Dia tidak akan mati.

Dan aku pun akan menjadi rumput liar yang tangguh, tak peduli betapa sering kau menginjakku.

*Tulisan ini terinspirasi Yamazaki Tanpopo (Imadoki)*

Minggu, Mei 03, 2009

Newest news...

Banyak hal yang terjadi dan saya sudah lama tidak menulis. Lima hari lagi untuk pertamakalinya saya akan pergi ke luar negeri, tepatnya ke Jerman selama 13 hari. Tapi sebelum itu banyak yang terjadi.

Semester 2 ini berlalu bagai shinkansen di rel kehidupan saya. Segalanya berlangsung begitu cepat dan tiba2. Patut disyukuri bahwa saya ketiban banyak prestasi pada semester ini. Itu juga yang mungkin menjadikan hari2 saya berlalu begitu cepat. Awal semester, bulan Februari tepatnya, tahu2 ada pengumuman bahwa PKMM kelompok saya dan ketiga teman saya lolos didanai Dikti. Jadi selama 4 bulan kami harus melakukan program abdimas tersebut.

Awal Maret, mendadak dapat email bahwa saya diundang ikut student conference ISWI 2009 di Jerman. Setelah itu marathon aktivitas seolah tak berhenti menghadang…

Waktu saya habis untuk keperluan cari sponsor keberangkatan. Mulai bikin proposal, konsultasi, ngurus surat, ketemu sponsor, dll. Di samping itu masih harus jalan PKMM. Dan tugas kuliah yang seabreg. Sisa2 tugas kepanitiaan yang belum terselesaikan. Belum lagi kegiatan insidental yang butuh persiapan mendadak…

Di sela2 waktu itu saya—entah kenapa—masih sempat daftar ikut lomba. Saya gak tahu apa yang ada di pikiran saya waktu itu tapi ternyata ikut juga. Saya satu tim dengan dua kakak tingkat saya. Karena sama2 sibuk, kami gak pernah latihan sama sekali bahkan sampai menjelang keberangkatan…

Sama sekali gak terpikirkan bahwa untuk ikut lomba debat itu harus menginap di dekat UK Petra selama 5 hari. Kami berangkat tanggal 25 dan pulang tanggal 29. Padahal tanggal 6 saya sudah harus terbang ke Jerman. Tapi saya sudah terlanjur mendaftar dan tidak boleh mundur, meskipun saya ingin…

Di Surabaya sama sekali tidak mengenakkan. Terutama karena saat keberangkatan tiba2 saya dapat ‘monthly guest’. Rasanya gak nyaman. Di sana saya bad mood dan dimarahi teman se-tim karena bête terus kalo diajak latihan. Padahal kan saya lagi gak enak badan. Anak laki2 gak bisa mengerti. Di sana saya cewek sendirian. Saya homesick berat. Dan saya hanya tidur 3-4 jam sehari. Tapi ternyata kami lolos terus dan gak bisa langsung pulang…

Meskipun masih ‘cupu’ dalam hal lomba debat, anehnya kami berhasil meraih juara 2. Ini keajaiban. Mengingat pengalaman dan persiapan kami yang sungguh pas2an. Sayang sekali, waktu mau pengumuman pemenang tiba2 ada berita duka. Ayah salah satu teman se-tim saya meninggal. Baru sekali itu saya lihat dia menangis dan saya jadi ikut sedih. Tapi saya bingung mau bilang apa jadi saya cep2in saja.

Pulang ke Malang saya sudah ditunggu oleh rentetan tugas yang menyesakkan. Banyak yang dikumpulkan hari Senin, padahal saya take off hari Rabu. Dan saya sama sekali belum mempersiapkan materi untuk dipresentasikan di ISWI. Saya lagi2 mengalami masalah dalam manajemen waktu…huhuhu

Baiklah rasanya cukup sekian laporan kegiatan saya sehari-hari. Nanti akan saya posting yang lebih bermutu. Semangat! ^^p

deepest feeling...

Ada kalanya sulit bagimu untuk tidak menyukai orang yang terbiasa ada di dekatmu. Apalagi kalau kamu adalah orang yang tidak percaya pada pandangan pertama. Kadang-kadang kamu merasa amat respek padanya, tapi di lain waktu perasaan itu menguap begitu saja. Selalu naik dan turun. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dia menempati posisi yang spesial di hatimu. Mau tidak mau di waktu-waktu senggang pikiran itu muncul di benakmu.

Sayang sekali kamu tidak bisa terus bersikap seperti itu. Ada beberapa hal yang membuatmu harus menahan kuat-kuat perasaanmu. Ada beberapa hal yang membuatmu lebih baik menekan saja apa yang kamu rasakan. Memang cukup sulit, tapi setelah kamu pikir-pikir, memang itulah yang terbaik.

Kamu tidak habis pikir sebenarnya apa yang salah dengan dirimu. Mengapa kamu begitu sulit membuka diri dan mengapa kamu tidak mudah menceritakan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Kadang-kadang kamu berpikir apakah dirimu ini sama sekali tidak menarik? Mengapa tidak ada orang yang memberi perhatian khusus padamu?

Kadang2 kamu mengira kamu diciptakan dengan dinding transparan di sekelilingmu, yang menghalangi orang-orang untuk mendekatimu. Malangnya, dinding itu sepertinya kamu buat sendiri secara tidak sengaja. Dan itu sudah berlangsung lama sekali. Kamu tidak pernah tahu bagaimana cara menghancurkannya. Kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya sampai kamu merasa bahwa ternyata kamu selalu sendirian. Tapi sudah terlambat. Dinding itu sudah tumbuh terlalu kuat untuk dihancurkan. Dan kamu akan selalu melolong minta pertolongan dari balik kungkungannya.

Kamu pun bertanya mengapa kamu tidak bisa bersikap baik kepada orang yang mencoba mendekatimu? Kamu hanya bisa menerima mereka yang memang ingin kamu terima. Sayangnya meskipun sudah menunggu mereka tidak pernah datang. Dan dinding yang kamu bangun pun tumbuh semakin tinggi dan tinggi. Kamu terbenam di dalamnya tanpa bisa menggapai-gapai lagi.

Orang-orang tidak tahu bahwa kamu sangat butuh pertolongan. Kamu menginginkan mereka ada di dekatmu tapi dinding transparan itu membuat mereka takut mendekatimu. Lama-lama kamu muak. Suatu hari kamu akan menghancurkan dinding itu. Pasti. Entah bagaimana.

Jumat, Mei 01, 2009

Terbang...

Saya percaya setiap manusia punya sayap dan bisa terbang. Ada yang memiliki sayap yang kuat dan tahu betul bagaimana cara mengepakkannya hingga bisa membawa mereka terbang melampaui awan. Ada pula yang sebetulnya punya sayap yang bagus, namun tidak tahu bagaimana cara mengepakkannya. Ada pula yang begitu ingin meniru sayap-sayap orang lain agar bisa terbang setinggi mereka. Ada pula yang tidak percaya akan kekuatan sayap mereka sendiri. Bahkan ada pula yang tidak sadar bahwa mereka sebenarnya memiliki sayap.

Seperti burung, sayap-sayap manusia pun bisa patah. Tapi, tidak seperti burung, manusia punya kekuatan untuk memperbaiki sayap-sayapnya sendiri, menyembuhkannya, dan mengepakkannya kembali menuju angkasa. Manusia akan selalu bisa terbang selama mereka mau mengepakkan sayapnya sendiri...

Ada kalanya kamu tidak puas dengan sayapmu sendiri. Mungkin kamu merasa sayapmu terlalu kecil, tidak seimbang, dan terlihat rapuh. Mungkin kamu ingin memiliki sayap seperti temanmu; yang lebih besar, indah, dan kuat. Namun pernahkah kamu berpikir bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan sayapnya masing-masing? Pernahkah kamu berpikir bahwa sayapmu-lah yang paling baik untukmu? Mungkin jika kau diberi sayap sebesar itu, tubuhmu terlalu kecil untuk menanggungnya. Percayalah, Tuhan tahu pasti sayap yang paling tepat untukmu.

Jika kau merasa tidak bisa terbang, jangan keburu berpikir bahwa kau tidak punya sayap. Sayapmu selalu ada di sana, tepat di punggungmu. Kau hanya perlu memeriksanya sebentar, barangkali ada bagian dari sayapmu yang patah? Barangkali ada bulu-bulu sayapmu yang rontok? Barangkali kamu hanya perlu memperbaiki sayapmu dan setelahnya kamu bisa terbang kembali...

Jangan keburu berpikir bahwa sayapmu benar-benar patah dan tidak bisa disembuhkan. Berpikirlah bahwa betapapun patahnya sayapmu, selalu ada cara untuk memperbaikinya dan kamu akan selalu bisa terbang mencapai langit...

Terbanglah dengan mimpi-mimpimu!

Senin, April 13, 2009

A Sunday with Peng Laoshi














On Sunday morning Ken invited me along with 彭洁, our中文老师 (Chinese lecturer in Ma Chung University) to go to her family’s marriage. We arrived at Ken’s home early at 7 a.m. (Actually I was a bit late coz I almost forgot the appointment =p). Well, at that time we watch the marriage promise (akad nikah) and 彭老师 asked me few questions about that.

After ‘akad nikah’ we spent the time talking about many things in Ken’s room. 彭老师 was interested with the history of Chinese-descent people in Indonesia, the topic that Ken and I also like to discuss. We also compared about people habit in Indonesia and China, the culture, even we talked about guy. 彭洁liked suggesting people, she’s really suitable to be 老师 ^^.

After that I asked老师 to come to my home. At that time the whole family was going to Surabaya, so there was only me and my 1st sister. I told 老师 about my family, I showed her the family photo album. She asked me to keep my baby photo^^.

Then I dropped her in her home. But at 3 p.m. we went back to Ken’s home to see the ceremonial’s wedding. This is the most interesting part. Ken asked 老师 to bring the ‘Kembang Mayang’. You know that in traditional Javanese wedding ceremony, there will always be two girls in bride side and two boys in broom side to hold the Kembang Mayang. Actually it’s Ken, but she want 老师 to replace her.

So 老师 wore ‘kebaya’ and ‘jarik’—she’s so cute, really, just see it in the photo^^. She changed the Kembang Mayang with the boy in broom side. Hooo…she’s a bit nervous~~. Then she asked me what was the meaning of changing the flower, but I couldn’t clearly answer (poor Javanese me -_-“).

Take a look at the photos…^^
I also share the photos and video on Facebook.

Poligamy in Islamic View

Well, this post is dedicated to anybody who wishes to know more about polygamy in Islam. Since one of my lecture point this topic I wrote in previous post, I decide to explain about Islamic polygamy in detail.

Banyak orang protes, mengapa poligami dibolehkan? Ya, poligami memang secara sah DIBOLEHKAN, bukan DIANJURKAN. Jelas dan gamblang sekali Allah menjelaskan di QS An-Nisa’ ayat 3:

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim, maka nikahilah wanita2 yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak2 yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Ada alasan tentunya mengapa seseorang boleh berpoligami (well, istilah yang tepat sebetulnya poligini, yaitu seorang pria menikah dengan lebih dari 1 wanita. Kalau poliandri=seorang wanita menikahi lebih dari 1 pria. Poligami=menikah dengan lebih dari 1 pasangan. Baik poligini maupun poliandri keduanya termasuk poligami. Tapi karena sudah terlanjur salah kaprah… apa boleh buat -_-“).

Misalnya jika istrinya gak mampu memberikan keturunan. Atau gak mampu melayani nafkah batin suami. Atau untuk mengangkat derajat wanita janda dan anak2 yatim yang dibawanya, menafkahi dan melindungi mereka. Dan perlu diingat, untuk melakukannya gak asal cablak aja ya. Ini yang disayangkan kenapa banyak orang memposisikan poligami seolah2 seperti “seenaknya kawin lagi”, “asal nyaut istri baru”, dsb, dkk, emangnya kita ini kebo apa??? Kalo kebo mau kawin ya kawin aja. Gak perlu ribet minta izin istri pertama, menafkahi secara adil, membagi waktu secara proporsional, dll. Poligami itu bukan sekedar menikah lagi, Sodara2. Ada aturannya, ada syaratnya yang kalo dilanggar malah bikin dosa.

Di ayat Al-Quran di atas udah jelas diterangkan, kalo nggak bisa berbuat ADIL, mending gak usah nikah lagi deh. Kalo gak punya cukup duit, siap secara mental, finansial, emosional, intelektual, dan spiritual mending gak usah poligami. Daripada maksain malah jadi dosa? Nah, sekarang jadi muncul pertanyaan. Kalo emang dasarnya monogami itu lebih baik, kenapa poligami dibolehin?

Well, ada tiga alasan seenggaknya. Ini kesimpulan pribadi, hasil membaca-baca beberapa buku poligami.

Pertama. Anda pernah belajar Biologi, khususnya Genetika? Anda tahu bahwa laki2 memiliki kromosom kelamin bergenotip XY, dan perempuan XX? Anda tahu bahwa kromosom X lebih mudah hidup pada lingkungan bersifat asam, sifat alamiah pada organ reproduksi wanita? Anda tahu bahwa kromosom Y hanya bisa hidup di lingkungan basa, kondisi yang jarang terjadi pada organ reproduksi wanita, kecuali saat orgasme? Intinya adalah: Bikin anak cowok itu lebih SULIT daripada bikin anak cewek, dan karenanya WAJAR kalo dari dulu sampe sekarang jumlah wanita selalu lebih banyak daripada pria, dan karenanya WAJAR pula jika suami beristri dobel lebih BANYAK daripada istri bersuami dobel.

Kedua. Anda tahu pria diciptakan dengan hasrat seksual menggebu-gebu, bergejolak, selalu minta disalurkan—sungguh merepotkan dan menyusahkan -_-“. Nah, apa yang terjadi jika pria berlebih nafsu ini tidak terpuaskan? Jawabannya mudah sekali, semudah menemukan poster caleg saat kampanye pemilihan. Anda tahu kasus perselingkuhan? Pemerkosaan? Prostitusi? Atau bahkan Anda pernah melakukannya sendiri? Itu adalah akibat dari hasrat pria yang tidak tersalurkan pada tempatnya.

Heran juga ya, kenapa orang2 seperti lebih mudah memaafkan suami yang berselingkuh daripada suami yang berpoligami? Ketika seorang pria berselingkuh, maka ia mencari kepuasan seksual tanpa ingin terikat pada tanggung jawab. Gampangannya begini,” Aku nge-seks sama kamu, aku puas, kamu puas, tapi jangan paksa aku bertanggung jawab. Kamu mau duit? Aku kasih. Tapi kalo kamu hamil, jangan panggil aku bapaknya. Kamu gugurkan, silakan. Nggak mau aborsi, jangan harap aku mau nafkahi. Jangan pernah minta warisan biar dia darah dagingku. I just wanna having fun. Free, tanpa ikatan.”
Lihat kan betapa PENGECUT-nya pria2 macam itu?

Nah, sekarang bandingkan dengan kasus ini. “Aku tertarik sama kamu. Tapi aku nggak mau kita berhubungan tanpa ikatan. Aku nggak mau kamu terlunta-lunta. Kalau kamu cuma kujadikan simpanan, status anak kita nggak jelas. Aku bisa nafkahi kamu tapi nggak bisa mengangkat derajatmu. Aku nggak mau itu. Aku mau bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat. Jadi aku nikahi kamu, kita bisa berhubungan dengan sah dan aman. Aku terikat secara resmi padamu.”
See, mana yang lebih bertanggung jawab???

Nggak benar sebetulnya kalo poligami dibilang merendahkan derajat wanita. Lha, jadi wanita simpanan sama jadi istri resmi ya jelas lebih terhormat jadi istri resmi toh? Mana sih yang lebih menyakitkan sebagai seorang wanita, ketika kamu dihadapkan pada suami yang sok2 berlagak setia di hadapanmu, tapi di belakangnya selingkuh sama pelacur2 murahan dan punya banyak simpanan? Atau suami yang jujur mengakui kalo dia jatuh cinta sama perempuan lain, tapi mau bertanggung jawab dan menikahinya secara terhormat? Mau terus dibohongi dan berlagak harmonis, atau mau diberi kejujuran biarpun menyakitkan?
Well, itu pilihan. Dan pilihan perempuan memang nggak pernah mudah.

Ketiga. Anda tahu beberapa wanita tidak dapat melahirkan keturunan? Anda tahu beberapa wanita mungkin terkena penyakit dan tidak bisa melayani kebutuhan biologis suami? Tapi suami masih mencintai dia, dan nggak mau menceraikan dia. Tapi suami juga butuh nafkah batin, butuh anak kandung. Solusinya nggak perlu berselingkuh. Dia bisa menikahi satu wanita lagi.

Well, kesimpulannya poligami bukan sembarang lakon. Bisa dibilang ini adalah jalan keluar secara sah untuk menghindari zina a.k.a. seks bebas. Pelaku poligami dibebani tanggung jawab yang sangat besar. Bukan seperti pelaku seks bebas yang seenaknya mencampakkan wanita yang udah dia ‘campurin’. Waktu milih istri baru pun harus betul2 dipikir, sama seperti ketika pilih istri pertama. Dilihat bibit, bebet, dan bobotnya. Jadi bego banget kalo ada orang yang dengan lugunya menyamakan poligami dengan seks bebas, apalagi sampe menuduh bisa menularkan PMS. How dare!

Tapi sekali lagi, poligami itu bukan ANJURAN, apalagi kewajiban, tapi hanya emergency exit untuk kasus2 tertentu. Kalo dengan satu istri aja udah bisa hidup bahagia, kenapa harus nambah lagi?

Sabtu, April 11, 2009

Roxalen Reminds...

Ashya Mubin Arumbhi terpana menatap makhluk di hadapannya. Gadis kecil itu baru empat tahun dan ia baru saja mendapati mukjizat kedua muncul dalam hidupnya. Matanya yang besar hitam, khas wanita India, tak berkedip menatap seonggok keajaiban di telapak tangannya. Seekor bayi ikan yang luar biasa menakjubkan. Bayi itu tidak lebih besar dari telapak tangan Aaya. Ekornya putih keperakan, memendarkan pelangi saat cahaya matahari mengenainya. Ekor itu berkecipak lemah di tangannya, menimbulkan sensasi geli yang menyenangkan di kulit si gadis.

“Aduh, kau lucu sekali,” Aaya kecil tertawa senang. Namun ekor putih itu bukanlah keajaiban utama si bayi ikan. Semakin ke atas, sisik pada ekor itu semakin menipis, menyamar, hingga akhirnya berubah menjadi kulit. Kulit manusia lengkap dengan segala kerutannya. Lebih menakjubkan lagi, bayi ikan itu berkepala manusia. Betul-betul kepala bayi manusia. Matanya berbinar-binar lucu dan bibir mungilnya terus saja megap-megap seolah minta susu.

“Tapi…” Aaya kecil menatapnya ragu. “Kau ini apa, ya?” Gadis kecil itu berpikir sebentar. Kemarin ia baru saja mendapat mukjizat pertamanya. Saat bercermin, tiba-tiba ia mendapati bayangannya bisa berbicara. “Hai,” sapa bayangannya di dalam cermin. “Kau Ashya, kan? Aku Aysha, bayanganmu. Mulai hari ini kita akan menjadi teman dekat.”

Keajaiban rupanya belum berhenti. Belum selesai Aaya mereka-reka makhluk di hadapannya, bayi ikan itu tiba-tiba melompat dari tangannya. “Hei!” pekik Aaya. Bayi itu menyelam kembali ke laut, persis di dekat karang, tempat di mana Aaya menemukannya tergeletak berselimut pasir.

Seolah ditarik oleh pesona bayi ikan itu, tanpa sadar Aaya ikut melompat ke dalam laut. Di dalam air, bayi ikan itu masih berenang lincah di depannya. Aaya bermaksud meraihnya sebelum ia sadar bahwa ia tidak bisa berenang! Sungguh bodoh, ia masih empat tahun dan Ayah belum pernah mengajarinya berenang. Gadis kecil itu megap-megap meminta oksigen. Gaya gravitasi terus menariknya turun…tenggelam ke dasar…sekuat apapun ia berusaha menyentakkan kakinya menuju ke atas. Aku tidak bisa bernapas! Ayah, Ibu, tolong aku! Paru-parunya yang serasa terbakar memaksa kelenjar di ujung matanya mengeluarkan airmata. Meskipun toh tak ada gunanya karena ia sekarang berada di dalam air, menangis atau tidak tak akan ada bedanya.

Namun lagi-lagi keajaiban itu muncul. Saat hampir pingsan keracunan karbondioksida, seekor kepiting biru tiba-tiba muncul di dekatnya dan mencapit ujung jarinya seketika. Cukup sakit, tapi itu juga cukup untuk membuatnya tersadar kembali. Entah mengapa tiba-tiba aliran udara menerobos langsung ke paru-parunya. Melegakan. Air laut masih tetap ada di sana, namun entah bagaimana kini ia dapat menyerap oksigen di dalam air tersebut. Ia bisa bernapas! Ia menggerakkan tangan dan kakinya. Ringan! Ia bisa melayang! Ia tidak lagi terseret ke dasar laut. Buru-buru Aaya menoleh ke sekeliling dan mendapati ekor putih bayi ikan itu berenang jauh di depannya. Dengan semangat Aaya mengejarnya serupa kelincahan seekor lumba-lumba yang baru saja ia dapatkan.

Samudera Pasifik sangatlah luas. Bayi ikan itu berenang begitu cepat namun Aaya selalu dapat mengimbanginya. Kulitnya seakan menyatu dengan air di sekelilingnya. Begitu sejuk dan elastis. Ia bisa meliuk dengan cepat, tangkas, sungguh seakan terbang di angkasa bersih tanpa awan. Ia berenang dalam kecepatan tinggi, seperti warp di ruang antarplanet. Ini menyenangkan! pikirnya. Aaya terus berenang dengan senyum lebar terkembang—serupa layar perahu jauh di permukaan, tempat kedua orangtuanya sibuk mencari anak gadisnya yang tiba-tiba menghilang. Namun tentu saja Aaya tak mendengar teriakan mereka. Bayi ikan setengah manusia itu begitu menarik perhatiannya, dan kini ia hanya tinggal sejengkal saja dari ekor putihnya yang meliuk-liuk lucu.

Tangan Aaya menggapai-gapai mencoba meraihnya. Namun baru saja ujung jarinya menyentuh sisik keperakan itu, sebuah pemandangan luar biasa muncul di hadapannya. Dalam sekejap waktu di sekitarnya seolah berhenti. Untuk kesekian kalinya Aaya terpana. Dua hari terakhir ia telah mengalami rangkaian keajaiban tak masuk akal, namun inilah yang paling istimewa.
Sebuah karya arsitektur yang begitu megah berdiri menjulang di depannya. Sungguh tak menyangka bangunan menakjubkan itu bisa tertanam di sini, beribu-ribu mil di dasar Samudera Pasifik. Tempat itu tak terkatakan. Ada kubah besar di tengahnya, melengkung melindungi bangunan utama berupa lingkaran di bawahnya. Di sekeliling kubah koridor-koridor panjang silang menyilang mengitarinya. Koridor itu dilapisi ivies, tanaman merambat yang menjurai menutupi atap dan dindingnya. Dari kejauhan, bangunan itu serupa planetarium di dasar laut yang dikelilingi kebun percobaan.

“Ini…apa?” Aaya tak bisa menahan emosi. Menatap bangunan itu, rasanya seperti ada pisau-pisau rindu yang tiba-tiba menusuki hatinya. Rasanya seperti menatap rumah yang telah lama ditinggalkan. Rasanya seperti ada begitu banyak kenangan di tempat ini, tempat di mana ia selalu ingin kembali.

Roxalen.
Sebelas tahun kemudian, ia benar-benar kembali ke tempat itu lagi.