Jumat, Februari 13, 2009

PKM Diary (2) : Sanggar Bandulan Lagi...


Tadi sore lengkap kami berempat mengunjungi Sanggar Bandulan. Kebetulan tadi lagi ada Pelajaran Main Jimbe dan Petualangan Mencari Hewan Bertulang Belakang. Hwkwkwk ini dia foto2nya...

"Tempatnya di pinggir kali..."

"Wawancara sama Mas Dwi"

"Kecil2 master jimbe! Hohoho..."

"Sempet-sempete narsis2an rek...-_-"

"Mana yah Hewan Bertulang Belakang?"

"Horeee aku dapet ulet daun pisang nih!"

"Sumber air abadi..."

"Mbak2 fotoen aku mbaakk...!!!"

Sorenya kita sempet pergi ke Pandanlandung...tapi seperti yang sudah saia ceritakan sebelumnya, sanggar itu sekarang sudah kosong. Berhubung gak tau di mana rumah penduduk yang dipake sementara, jadi kita balik lagi deh...
Smangaaaaaaaaaaddddddddddhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!! ^0^p

Kamis, Februari 12, 2009

PKM Diary (1) : Sanggar Anak Bandulan

Mulai sekarang aku bakalan posting catatan penelitian PKM kami ber-4. Kebetulan Bapakku kemarin cerita soal ‘tradisi’ PKM yang ada di perguruan2 tinggi, terutama PTN. Tanpa bermaksud menggeneralisasikan, kadang2 ada oknum yang memanfaatkan momen ini. Misalnya, proposal penelitian PKM diambil dari skripsi/tesis yang udah jadi. So, tanpa perlu susah2 meneliti, mereka tinggal bikin Laporan berdasarkan skripsi/tesis itu dan…sim salabim! Jadi deh… Duit penelitian pun raib entah ke mana…hohoho

Tapi tentunya kami nggak akan begitu. Dan kami pun nggak pengin begitu. Rangkaian posting ini akan menjadi BUKTInya. Aku mulai merasa penelitian ini bakalan mengasyikkan. Kami akan berbaur dengan anak2, nyemplung ke sanggar2, promosi ke universitas dan perusahaan…kami akan menjadi bagian dari sekelompok pejuang pendidikan—sebuah dunia yang sangat kami cintai…

Sore tadi aku dan Ami pergi lihat2 salah satu sanggar yang bakal jadi obyek penelitian kami : Sanggar Bandulan. Sanggar ini adalah salah satu dari 2 sanggar yang ada di bawah organisasi Sanggar Sahabat Anak di Langsep 58.

Oleh Mas Maman, salah satu pengajar, dari Langsep kami dibawa turun ke Bandulan. Lokasi sanggarnya cukup ‘terpencil’. Masuk gang2 sempit sampe harus turun dari sepeda motor dan akhirnya... TARAAA!!! Inilah tempatnya…

-Sanggar Bandulan Tampak Depan-

Jumlah muridnya sekitar 10 anak. Waktu kami datang ada beberapa murid SMA Dempo yang sedang mengajar. Ternyata mereka rutin ke situ setiap Kamis. Lalu di depan sanggar kami pun berbincang2 sebentar dengan Mas Maman…

Cukup banyak yang kami dapatkan darinya. Katanya sanggar ini pernah dikira melakukan Kristenisasi. Akibatnya di Sanggar Pandanlandung jumlah murid agak menurun. Sebelumnya bisa ada 60-an anak, tapi sekarang tinggal 15-20 saja…


-Hasil karya anak2 Sanggar Bandulan-

Cerita ini mengingatkanku pada Mbak Ayik, pemilik sanggar lain yang juga jadi obyek penelitian kami di Mergosono. Kebetulan Mbak Ayik adalah seorang aktivis gereja. Dalam perjuangannya mendirikan sanggar anak di sana dia juga menemui hambatan sama: dicap melakukan Kristenisasi. Untungnya itu sudah lama terjadi dan sekarang udah normal kembali…

Aku nggak habis pikir kenapa yah orang2 bisa berprasangka se-negatif itu??? Maksudku, apa nggak bisa yah kita memandang nilai sesuatu dari APA yang dilakukan, bukan SIAPA yang melakukannya. Aku rasa pendidikan luar sekolah adalah hal yang sepenuhnya baik, dan siapapun yang melakukan, nggak pantaslah kita menghalang-halanginya. Mereka sendiri kalo emang nggak suka ada ‘orang luar’ yang bikin sanggar anak di situ, kenapa nggak dari dulu aja bikin sanggar sendiri dan mendidik anak2 mereka sendiri? Nggak seharusnya kan kita melarang orang2 yang niat berbuat baik hanya karena alasan yang nggak masuk akal, sementara kita sendiri nggak bisa berbuat seperti itu?

Harus ada yang diluruskan dalam hal ini. Selama kami di Sanggar Mergosono, aku gak menemukan satu hal pun yang menjurus ke arah Kristenisasi. Tolong deh. Mereka aja didongengin kisah Nabi Yunus versi Al-Quran kok. Waktu di Sanggar Bandulan tadi anak2 Dempo juga cuma ngajarin bahasa Inggris. Besok kami bakal ke Sanggar Pandanlandung dan abis denger cerita tadi, aku penasaran dengan kondisi sosbud masyarakat sana. Sebisa mungkin aku pengin memposisikan diri sebagai peneliti objektif.
-Interview: Ami n Mas Maman-

Well, tentunya main di area SARA bukanlah tujuan utama penelitian kami. Ini hanyalah salah satu hal menarik yang gak sengaja kami temukan. Tapi yang jelas, penelitian ini bakalan keren. Tujuan masuk PIMNAS jadi serasa kecil begitu tahu apa yang bisa kami berikan jika program ini berhasil. Misi kami adalah menjadi fasilitator antara sanggar2 anak dengan sukarelawan dan donatur. Kami akan survey dan mendokumentasikan kegiatan anak2 di 3 sanggar tsb, mempublikasikannya via website, menge-paknya dalam bentuk CD, mempresentasikannya di kalangan akademis dan pengusaha, menghubungkan para sukarelawan pengajar & donatur ke sanggar2, memantau perkembangan sanggar, dan akhirnya memamerkan hasil karya anak2 sanggar di Perpustakaan Umum.

Biar semua orang tahu kalo di Malang banyak sanggar pendidikan anak yang keren2. Biar semua orang tahu kalo Pendidikan Luar Sekolah itu penting. Biar semua orang gak lagi mendewakan nilai tinggi di sekolah formal tapi dengan life skill payah.
Dan yang terpenting, biar semua orang tahu kalo di pelosok2 kota ini, para pejuang pendidikan masih ada dan akan terus berusaha mencerdaskan anak bangsa!

Story Behind a Slap

Once a student from America came home after a long period of time. He had built so critical way of thinking that he challenged his ‘Ustadz’ (Arabic word of ‘teacher’—usually used to call someone expert in Islamic studies) about religion matters.

He asked 3 questions :
Why can’t I see God?
What is fate?
Why devil is punished in hell which consists of fire—while devil itself is made from fire? It must not feel any pain, then?

But instead of answering the questions, right after the student spoke suddenly the Ustadz strongly SLAP him!

“S**t! What the h**l are u doing???” shout the student.
“I’m doing what u want,” said the Ustadz calmly. “I’m answering ur questions.”
“Huh??? I heard even no single answer!” the student protested.
“My slap,” told the Ustadz. “It answered all of your questions.”
“You fool,” mock the student. “How come?”

“OK I’ll explain it, Young Guy. When I slapped you, what did you feel?”
“Painful,” he answered.
“Could you see it?”
“Pain? Of course I can’t see it.”
“Then how can you know that it exists?”
“I just feel it.”
“And so is GOD,” said the Ustadz. “It’s the answer of your first question. You can’t see Him but you can feel Him, that’s why you know that HE absolutely exists.”

Hearing this answer, the student can only gawked.

Still in his calm style, the Ustadz asked the student again.
“When I slapped you, did you predict, or even dreamt, that you will get slapped today, at this time?”
The student just moved his head side to side.
“That’s what you called FATE,” said the Ustadz. “And it also answered your second question.”

The student’s mouth opened wider and wider.

Finally, the Ustadz asked him again.
“Then, what do you think my hand was made from?”
“Skin, of course.”
“And your cheek?”
“Skin, too.”
“And you felt painful when I slapped you?”
“Yes I’ve told you,” the student answered—started think that this Ustadz may bullied him.
“Naaahhh,” the Ustadz got his point. “So does DEVIL. Though it was made from fire, and it was punished in hell which also consists of fire, still it feels painful.”

With this last answer of his questions, the student was left unspeakable.
(Translated from Media Ummat, 3rd-4th week of January 2009 Edition, with some changes to make this more dramatic story...=p)

Rabu, Februari 11, 2009

I wanna go home...

Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home
Mmmmmmmm

May be surrounded by
A million people eye
Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”

Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that

Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky, I know
But I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right

And I know just why you could not
Come along with me
'Cause this was not your dream
But you always believed in me

Another winter day has come
And gone away
In even Paris and Rome
And I wanna go home
Let me go home

And I’m surrounded by
A million people eye
Still feel all alone
Oh, let me go home
Oh, I miss you, you know

Let me go home
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home
Let me go home
It will all be all right
I’ll be home tonight
I’m coming back home

I don't know why
I just can't stop listen to this song...

Jumat, Februari 06, 2009

Proposal PKM Lolos!

Alhamdulillah. Hari ini Allah memberiku keajaiban. Guess what?
PROPOSAL PKM KELOMPOKKU LOLOS!!!
Kami bisa melaksanakan penelitian ini dengan bantuan dana sebesar Rp 4,29 juta dan berkesempatan ikut PIMNAS!!! Senangnyaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!! >0<>0<

Waktu di Korbidkem pun aq heboh sendiri sampe diketawain Mbak Ratna…hwkwkwk tapi seneng juga liat Pak Hari ikut seneng… Jadi inget dulu waktu finishing proposal dia pernah bilang, “Firasatku…koyo’e punya kalian ini lolos deh. Dan firasatku gak pernah salah…” Huaaa entah ketepa’an ato gak yang jelas thanksss so much uda mau firasat-in kita Pak…!!! Hwkwkwk…=p

Habis ber-heboh ria di Korbidkem aq turun lagi ke bawah trus ke kantornya Pak Daniel, dosen Pembina kami. Pertamanya sebel karena uda cerita heboh2 tapi orangna nyantai2 aja…hueehh. Ternyata eh ternyata, dia udah tau kalo kelompok kita lolos pas aq di Public Comp tadi tapi sengaja gak ngasitau. Pantesan pas lewat orangna senyam-senyum geje gitu eh ternyata…!!! Tapin histeris-ku tetep ae gak abis2. Huaaa aq emang lebayyy… hwkwkwk

Dari tiga (lek gak 4) kelompok yang kirim proposal PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), Cuma kelompok kami yang lolos. Ko Cung, Ami, aku, dan Vania bikin proposal PKM bidang Pengabdian Masyarakat dengan judul Penggunaan Metode MLM (Missing Link Management) untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan Luar Sekolah pada Sanggar Akar dan Mergosono Kota Malang.

Masih keinget gimana dulu, sekitar bulan September aq lagi sering nongol di Bidkem buat nggarap lomba business plan UNIC di Ubaya, barengan ma Vondy, Ega, en Ce Ivana. Tau2 Ko Cung dateng nawarin untuk ikut PKM barengan dia dan Ami. Dengan tampang kaget spontan aku nyaut, “Hah? Apaan tuh???”

Setelah dijelasin sana-sini akirna ngeh juga sama yang namanya PKM. Jadi kita2 para mahasiswa bisa bikin proposal penelitian dan dikirim ke Dikti. Kalo lolos bisa dapet bantuan dana maks. 6 juta. Setelah dana turun kita harus melakukan penelitian tsb selama 4 bulan. Selama itu kita bakal di-monitoring dan kalo udah selesai kita harus kirim laporannya ke Dikti lagi. Kalo dianggap bagus, kita bisa diundang ikut PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) dan presentasi di sana. Kalo kita bisa tampil keren, maka berhak meraih berbagai gelar juara nasional yang udah disediakan. Kebayang kan betapa bergengsinya even ini??????????????????????

Emang sih sebenernya ini bukan prestasi yang luar biasa. Kalo di PTN2 yang udah mapan, bisa berpuluh2 proposal yang lolos PKM, dan buanyak yang lolos Pimnas, dan akhirnya langganan juara Pimnas. Tapi ini di MA CHUNG. Sebuah perguruan tinggi swasta yang masih bau jahe dan baru punya 2 angkatan. Inilah pertamakalinya Ma Chung kirim PKM dan pertamakalinya juga lolos. Kata Pak Hari, kemungkinan besar Dikti ambil 1 proposal sebagai trial alias percobaan. Ngelihat sejauh mana sih Universitas baru ini bisa dipercaya? Kalo kita bisa menggarapnya dengan sukses, maka untuk PKM2 berikutnya bakalan lebih gampang lolos. Sebaliknya kalo kita asal2an, kita bakal kehilangan kepercayaan dari Dikti dan proposal2 PKM yang selanjutnya bakal lebih sulit untuk lolos. Di PKM inilah nama Ma Chung bergantung. Mau harum ato nggak, kita semua yang menentukan. Rasanya kayak bener2 merintis dari bawah…

Sadar betapa besar tanggung jawab yang bakal kami tanggung, akirna aq mengubah beberapa rencanaku semester ini. Tadi sebenernya aq lagi nunggu giliran wawancara panitia Technopreneur…tapi begitu tau pengumuman ini langsung deh pulang dan mengundurkan diri…hohoho. Betul, aku harus FOKUS. Apalagi 3 anggota kelompok yang lain semua anak LK yang pasti sibuk, jadi aku harus mengalah dan selalu menjadi standby member.

Ko Cung sendiri udah dari awal bilang gak bisa total ‘nyemplung’ karena banyak kerjaan. Vania juga sibuk berat, lagian awalnya dia udah mengundurkan diri karena kondisi fisik yang gak memungkinkan…kami aja yang maksa2 dia. Untungnya Ami masih sering ke Mbak Ayik di Sanggar Mergosono. Jadi kita berdua masih bisa berjuang…

Targetku adalah : MASUK PIMNAS. Jadi juara ato nggak urusan belakangan, yang penting Pimnas dulu. Biarpun tahun ini ternyata Cuma di Unibraw (gagal deh impian ke luar pulau…T.T) tapi semangatku gak surut. Menanamkan konsep The Secret, aku udah bisa bayangin headline website UMC bulan Juni 2009 : MA CHUNG MASUK PIMNAS. Universitas anak bawang bombay uda bisa MASUK PIMNAS. Amiiinnn…!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Kamis, Februari 05, 2009

Potensi vs Prestasi


“FOKUSlah dulu ke satu potensi, baru setelah kamu cukup mahir, kembangkan minat yang lain,” begitu kata Pak Hari Kristopo Santoso Nugroho Joyo Raharjo (=p) waktu menjawab pertanyaanku tadi. Sesi CBDC I hari ini adalah tentang Self Awareness, yang kurang lebih artinya mengenali kelebihan dan kelemahan diri sendiri.

Herannya tuh orang bisa dengan sukses menebak keinginan terpendamku yang lain: MAEN GITAR!!! Euhh…nonjok banget!!! Udah sejak lama aku memendam keinginan untuk bermusik…tapi gak ada penyalurannya…T.T Benernya hampir semua jenis musik aku suka dengerin. Mulai ballad sampe alternative, mulai Good Charlotte sampe Didi Kempot. Sayangnya...cuma sampe dengerin doang...euhh...

Dan belakangan ini obsesiku makin menggila. Jangan ketawa yah...tapi ada satu keinginan yang sering banget aku bayangin tapi belum kesampaian: Aku pengin banget nyanyi lagu Tokyo-nya Yui sambil maen gitar akustik sendirian!!! Yep, solo performance!!! On the stage, where people see me as a star…woaaa this is my wildest dream!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!



Tapi boro2 ngerti chord-nya, maen gitarku payah...! Pernah belajar pas kelas 2 SMP, itupun demi memenuhi tugas Kesenian yang syaratnya harus main alat musik. Waktu itu telunjuk kiriku sampe ngapal hanya untuk mainin satu lagunya SUM41 (lupa judulnya). Padahal yah Sodara2...tuh lagu chord-nya cuman sebaris: Em C G D!!! -_- Sampe keriting jari wa cuman buat ngulang2 chord gitu doang...!!! Parah. Itupun aku jadi gak bisa konsen nyanyi karena sibuk ngeliatin senar dan mindah2in kunci...huakakakakak...

Tapi masihlah mimpi 'konser' itu kusimpan. Tadi waktu tes kecerdasan multiple, aq mendapat hasil yang cukup memberi harapan. Kalo gak salah kayak gini nih:
1. Linguistik 38
2. Intrapersonal 31
3. Musikal 25
4. Interpersonal 23
5. Logika-Matematika 20
6. Spasial/Visual 19
7. Kinestetik 17

Linguistik segitu gak kaget. Intrapersonal…mungkin karena aq suka analisis kepribadian orang kali yah? Setauku ni kecerdasan yang dimiliki para pemuka agama dan sufi2...tapi sejak kapan wa bakat jadi yang kayak beginian??? Hoh. Dan yang paling menarik perhatian adalah no 3 : ternyata aku punya bakat musik...!!! Gak gede2 amat sih...tapi mungkin itu karena belum dikembangkan. Dan tau gak, aku jadi kepikiran sesuatu nih.

Kenapa kecerdasan linguistik-ku tinggi? Mungkin karena bakat ini paling awal dikembangkan. Aku udah nyadar kalo bisa nulis sejak guru TK-ku ngajarin I-N-I I-B-U B-U-D-I (yaeyalah…hwkwkwk =p) Gak ding. Maksudna kesukaan dan kemampuan nulis ni uda disadari sejak kecil... Dan iklim keluargaku turut mendukung pengembangan bakat ini. Bapakku selalu langganan koran yang macem2 dan acara TV favoritnya adalah Liputan 6. Waktu TK sarapanku adalah Kompas meskipun aku Cuma bisa baca a-m-a-n-a-t-h-a-t-i-n-u-r-a-n-i-r-a-k-y-a-t. Huakakaka.

Nah, kenapa juga bakat musikku ada di posisi ‘tanggung’ begitu? Mungkin aja sebenernya Tuhan menciptakanku dengan bakat musik yang lumayan, tapi Dia menaruhku di keluarga akademisi…yang boro2 biola, sebiji ecrek-ecrek pun gak pernah keliatan di rumah (!). Ya gimana bisa aku mengkhayalkan diriku maen orkestra???

Jadi sementara bakat linguistik-ku sudah berkembang menjadi PRESTASI, bakat musik-ku masihlah sekedar POTENSI. Wajar aja kalo nilai linguistik-nya lebih tinggi. Seandainya tes ini dilakukan waktu masih balita, misalnya, bisa aja 2 kecerdasan itu punya nilai sama. Bahkan mungkin yang musik lebih tinggi. Tapi karena seiring pertumbuhan, yang lebih diasah adalah yang linguistik, jadinya kayak gini deh sekarang…


Coba deh liat Gita Gutawa. Tuhan uda ngasi dia berkah suara melengking, ditambah lagi dijadiin anaknya musisi beken dan baru 3 taun udah diles-in piano. Wajar banget dalam usia bau kencur dia bisa juara nyanyi di Mesir. Mungkin dia gak pernah tau kalo dia berbakat main tennis, misalnya? Dia gak pernah menyadari itu dan gak dibesarkan dalam lingkungan olahragawan…sehingga sampe mati bakat main tenisnya Cuma sekedar jadi POTENSI, bukan PRESTASI.

Siapa yang tahu kalo seorang tukang siomay di pinggir jalan sebenernya berbakat melukis, misalnya? Mungkin dia ngerasa bisa bikin gambar bagus biar Cuma coret2 asal2an. Mungkin dia ngrasa seneng karena banyak orang yang muji kalo desain gerobak siomay-nya keren. Tapi buat dia yang ngisi perut aja susah, mana mikir untuk beli kanvas dan melukis? Akhirnya, sampe mati dia tetep dikenang sebagai seorang penjual siomay, meski sebenernya dia punya potensi untuk jadi Picasso. Potensinya tetaplah POTENSI, gak pernah punya kesempatan untuk menjadi PRESTASI.

Jadi emang bener kata Tantowi Yahya. Untuk sukses gak Cuma dibutuhkan Capability, tapi juga Opportunity. Ada bakat tapi gak ada kesempatan, ya udah sampe segitu aja…

Aku jadi ngebayangin, berapa banyak yah talenta2 berharga yang udah mati sia2 karena gak menemukan kesempatannya? Berapa banyak ulat yang gak bisa jadi kupu2 karena gak menemukan kepompong? Mungkin di dunia ini ada berjuta-juta manusia berbakat seperti Pele, tapi Cuma dia yang sukses jadi legenda sepakbola karena dialah yang mendapatkan kesempatan dan mau mengembangkannya. Kelly Clarkson pun mungkin gak sadar dia bisa nyanyi sekeren ini kalo gak kebetulan ngelihat pengumuman audisi American Idol…

Seandainya semua bakat bisa dimaksimalkan, dan semua potensi bisa menjadi prestasi, tentu dunia akan lebih baik. Gak ada lagi orang yang putus asa karena merasa gak bisa apa2, gak ada lagi orang yang bikin onar karena gak tahu mau kerja apa. Sampe di sini aku tiba pada sebuah kesimpulan, yang juga menjadi salah satu mimpiku : PENDIDIKAN. Suatu saat aku mau bikin sekolah, akademi, atau apapun itu, yang menampung semua anak, mencari POTENSI mereka, mengasah potensi itu, dan mengembangkannya menjadi PRESTASI. Sekolah yang gak mengekang. Sekolah yang membiarkan setiap anak menjadi dirinya sendiri. Sekolah yang mendukung mereka mengembangkan bakatnya masing2, apapun itu.

Karena gak ada bakat yang gak penting. Atlet dan ilmuwan pun sama pentingnya. Iya kan?

Rabu, Februari 04, 2009

Bacteriochlorophyll Mentoring Group

NEW BACTERIOCHLOROPHYLL (tanpa Ko Cung dan Ce Irene)
-diambil waktu CBDC I, Selasa 3 Februari 2009-



OLD BACTERIOCHLOROPHYLL (tanpa Ko Cung, Danny, Brian)
-diambil waktu MCF, Jumat 8 Agustus 2008-


Mereka semua adalah keluarga pertamaku di Ma Chung. Orang2 yang bikin aku ngerasa nyaman banget di hari2 pertama menjadi mahasiswa. Orang2 pertama yang berhasil bikin Ma Chung feels like home...Hmm dulu waktu Ma Chung Festival aku udah nulis banyak tentang kelompok kami di 'MCF Diary' yang panjangnya sampe 10 seri...hehehe kapan2lah diary-ku itu aq publish di sini...

Anggota kami mula2 ada 18 orang, tapi sekarang nambah jadi 20 orang...here they are:

1. Mentor : Pak Ferry (Dosen Matematika IT)

Orangnya pendiem, kalo ngomong suaranya pelaaannn banget, kalo gak diajak ngomong duluan gak bakal ngomong...hehehe tapi orangnya baik deh

2. Co-Mentor : Ko Cung (Kakak tingkat Manajemen)
Orangnya 'gila' tapi anehnya pinter...salah satu 'pembawa kehancuran' di kelompok kami tapi juga gak segan2 memotivasi mentee-nya yang sering down (misalnya saia =p)

3. Co-Mentor : Ce Irene (Kakak tingkat Manajemen)
Orangnya manis dan cewek banget... Perhatian, lemah lembut (kadang2), dan kalo cerita ke dia pasti di'cep-cep'in biarpun gak nangis...hwkwkwk

4. Rizal alias Ical (IT)
Pembawa kehancuran...jago main musik, lebay, rada 'feminin'... Kalo lagi gila bisa gila banget tapi kalo lesu nge-BT-in...Tampang cowok tapi suara cewek...

5. Ridho alias Agie (IT)
Pembawa kehancuran...paling rame, suaranya paling keras, paling gak jaim, suka diserahin urusan2 kelompok misalnya bikin kaos...(yang sampe sekarang gak jadi2...hikzzz)

6. Ivan L (Manajemen)
Pembawa kehancuran...kadang2 sih, tapi sebenernya baik, cukup 'ngemong' dan rada dewasa... banyak ide dan suka inisiatif ngajak kumpul bareng

7. Hendry (Manajemen)
Keren dan jago main basket tapi payah di pelajaran...kalo di kelas sukanya minta diajarin tapi ya gak ngerti2...hwkwkwk, rada pendiem

8. Yopie (Manajemen)
Pendiem juga...tapi lumayan rajin

9. Septian (IT)
Jenius...otaknya bener2 se-encer susu kocok yang di-blender 2 kali...salut karena dia pekerja keras dan berjiwa ksatria...(halah opo ae =p), rada pendiem

10. Ericko (IT)
Jenius...di sains maupun bahasa Inggris...kalo pas mentoring dia jadi diem gitu...tapi kalo lagi kumpul sama 'geng'nya...keluarlah watak aslinya...hwkwkwk, jago nggambar

11. Kriswanto (IT kaliii...???)
Jangan tertipu sama penampilannya yang ndut, imut, chubby karena sebenernya dia... (*censored*) yang jelas orangnya diam2 menghanyutkan deh =p

12. Danny (Teknik Industri)
Anak baru...masuk waktu tengah2 kuliah... cowok cantik banget, kalo gak ngomong pasti aq gak nyadar klo dia tuh cowok (!), kebalikannya Ical, tampang cewek tapi suara cowok...hwkwkwk

13. Brian (IT)
Anak baru juga...baru masuk kemaren...masi blum tau nih wujud aslinya kayak apa =p
14. Audrey (Teknik Industri)
pendiem, pinter, sporty, baik dan ramah...paling suka jalan bareng dia

15. Mega (Bahasa Inggris)
pembawa kehancuran...ceriwis, rame...
16. Amelia (Teknik Industri)
pembawa kehancuran...ceriwis, rame, tomboy, cara ngomong en tingkahnya kayak cowok...hwkwkwk

17. Florence (Manajemen)
putri raja yang pendiam, anggun, dan baik hati...dermawan, suka bayarin kita2 kalo pas keluar bareng =p

18. Christine (Akuntansi)
pendiam saja tapi baik kok

19. Rosalin (IT)
suka banget baca manga dan nonton anime...kayak punya dunia sendiri tapi jago desain loh, buktinya masuk Tim Website UMC...
20. Aku deh... (Manajemen)
no comment^^

kumpul bareng mereka lagi jadi inget saat2 MCF...bikin yel2, latihan talent show, Journal Writing yang penuh kegilaan di kantin, King n Queen, nge-pool dan bowling bareng, makan siang bareng...hoh tapi belakangan semuanya jadi rada lesu deh...mungkin karena lama gak ketemu yah? dan CBDC ternyata cuma gitu2 aja, dan co-mentor kami juga gak ikut, dan lagi ada yang kena masalah...yah sudahlah...=)

But still I love them all...BRAVO BACTERIOCHLOROPHYLL!!! ^0^p